"Sampai hari ini, kebijakannya tidak impor beras. Sampai hari ini. Kalau ada keharusan untuk itu, maka pasti membutuhkan pertimbangan yang sangat dalam dan serius," ujar Andi di Auditorium III Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Senin (11/5).
Andi mengklaim ketersediaan beras di gudang Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) sejauh ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, proses panen raya masih berlangsung di sejumlah wilayah sampai saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, rangan PP pengendalian harga kebutuhan pokok itu masih berada di meja Jokowi menunggu untuk diteken. "Masih menunggu arahan Presiden lebih lanjut," ujar dia.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengungkapkan, pihaknya tengah menyiapkan izin impor beras kepada Perum Bulog guna menjaga stok dan stabilitas harga menjelang bulan puasa atau Ramadan, dan Idul Fitri.
"Kementerian Perdagangan sudah siap untuk mengeluarkan izin impor kepada Bulog. Tinggal finalisasi, tapi semua sudah siap," ujar Rachmat, Kamis (7/5).
Rachmat menjelaskan, langkah ini harus diambil untuk mengantisipasi harga kebutuhan bahan pokok yang biasanya melonjak menjelang Hari Lebaran. Namun, ia mengaku belum tahu berapa jumlah pasti beras yang akan diimpor.
"Jumlah beras yang akan diimpor itu nanti ditentukan setelah kami melihat dari angka stok yang ada. Yang jelas untuk tekan harga. Saat ini kami dan Perum Bulog tengah membahas soal stok beras Bulog yang ada," kata dia.
Mendag menambahkan Presiden Joko Widodo menyatakan akan mempelajari kondisi stok beras yang ada sekarang, sehingga Kementerian Perdagangan harus menindaklanjuti hal itu sebagai langkah persiapan. (ags)