“Pengumumannya dalam dua hari kedepan. Doakan saja Pertamina menang,” ujar Rachmad Hardadi, Direktur Pengolahan Pertamina di kantornya, Jakarta (18/5).
Rachmad mengungkapkan, sejatinya akuisisi terhadap kilang minyak di luar negeri dimaksudkan untuk meningkatkan angka produksi bahan bakar minyak (BBM) yang dihasilkan oleh perseroan. Pasalnya, pemerintah telah memberikan target kepada Pertamina untuk memiliki kapasitas kilang pengolahan minyak mencapai 2,5 juta Bph pada 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Untuk menutup gap, direktorat pengolahan gunakan dua paradigma dan RDMP (Refinery Development Management Program) yang ada di 4 kilang, Balikpapan, Cilacap, Dumai, Balongan,” tambah Rachmad.
"Oktober nanti proyek Langit Biru akan groundbreaking. Lokasinya sendiri tetap di Cilacap," tutur Rachmad.
Seperti yang diketahui, PLBC sendiri akan menghasilkan minyak berkadar oktan 92 atau setara dengan produk Pertamax. Meski terdapat peningkatan kualitas, Pertamina menyatakan bahwa PLBC tak akan signifikan meningkatkan jumlah produksi dari kilang Cilacap.
Sebab dijalankannya proyek tersebut hanyalah sebagai upaya perseroan dalam meningkatkan kualitas produk kilang. Di mana pembangunan fasilitas dan spesifikasi kilang Cilacap meliputi; pertama, revamping semi regent platforming unit dengan kapasitas 14,1 million barel steam per day(MBSD) menjadi CCR platforming dengan kapasitas 18,6 MBSD. Kedua, pembangunan isomerization unit dengan kapasitas 21,5 MBSD.
"Kalau produk yang dihasilkan sendiri (tetap) berkadar RON 92," tambah Rachmad. (gir)