Di tahap awal, lapangan yang terletak di Wilayah Kerja Ketapang, Jawa Timur itu telah mampu menghasilkan 3.700 barel minyak per hari (Bph) dan 2 juta kaki kubik gas bumi per hari (mmscfd).
“Secara bertahap akan meningkat hingga produksi puncak sebesar 20 ribu Bph dan gas sebanyak 50 mmscfd pada tahun 2016,” kata Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi melalui keterangan resminya, Selasa (19/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Upaya ini sesuai komitmen industri hulu migas untuk meningkatkan pasokan gas untuk domestik,” katanya.
Sebagai informasi, Lapangan Bukit Tua terletak di laut utara Jawa Timur atau 35 kilometer sebelah utara Pulau Madura, dan 110 kilometer timur laut Kota Gresik, Jawa Timur. Pengembangan Wilayah Kerja Ketapang dilakukan secara terpadu yang melibatkan fasilitas pendukung lainnya seperti fasilitas produksi, penyimpanan, dan pengangkutan terapung (floating production storage and offloading/FPSO) yang diberi nama Ratu Nusantara.
Fasilitas ini terhubung melalui pipa bawah laut sepanjang 110 kilometer, dengan fasilitas penerimaan di darat atau Onshore Receiving Facility (ORF) di Gresik. Gas yang diproduksi akan disalurkan ke ORF di Gresik melalui pipa, sedangkan minyak akan dikirim dengan kapal tanker untuk di ekspor.
Saat ini, Wilayah Kerja Ketapang dioperatori oleh Petronas Carigali Ketapang II Ltd berdasarkan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) di bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas. Kepemilikan saham Petronas di wilayah kerja tersebut sebesar 80 persen. Sisanya, dimiliki PT Saka Ketapang Perdana, yang merupakan anak perusahaan dari Perusahaan Gas Negara (PGN). (gir)