Liputan Khusus

Tiga Hari Terakhir Pembeda Loyalitas Para Menteri Soeharto

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Kamis, 21/05/2015 10:51 WIB
Tiga Hari Terakhir Pembeda Loyalitas Para Menteri Soeharto Sebanyak 14 orang menteri memutuskan tidak bersedia lagi menjadi pembantu Soeharto di akhir kepemimpinannya. (Getty Images/Robert Nickelsberg)
Jakarta, CNN Indonesia -- Senin, 18 Mei 1998, Presiden Soeharto memilih berkantor di Jl. Cendana Nomor 6, 8, dan 10 Menteng, Jakarta Pusat yang tidak lain merupakan kediaman pribadinya. Sejumlah Menteri Kabinet Pembangunan VII tampak lalu lalang di kediaman Sang Jenderal Besar pada hari itu.

Soeharto sebenarnya mulai resah saat itu. Krisis ekonomi yang berlanjut menjadi krisis sosial dan politik telah membuatnya tak lagi nyaman berkantor di Istana Negara. Alhasil tugas-tugas berat sebagai pemimpin negara dijadikan pekerjaan rumah oleh pria asal Dusun Kemusuk, Kabupaten Bantul, Yogyakarta itu.

Hingga malam hari, Soeharto masih sibuk menerima para pembantunya. Sejumlah pejabat tinggi yang membidangi ekonomi dan keamanan mencoba menenangkan Soeharto, dengan menyatakan komitmen dan dukungannya untuk mengendalikan situasi nasional.


Antara lain yang hadir dan membuat pernyataan pada malam itu adalah Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri yang juga Kepala Bappenas Ginandjar Kartasasmita. Tampak pula A.M. Hendropriyono, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, serta Menteri Keuangan (Menkeu) Fuad Bawazier yang menceritakan kisah ini kepada CNN Indonesia, juga ikut hadir di Cendana.

"Hari Senin dan Selasa saya masih bolak-balik ke Cendana. Masih berkirim surat dengan beliau," ujar Fuad ketika dihubungi Rabu malam (20/5).

Kondisi negara menjadi mencekam satu hari setelahnya. Gerakan yang menuntut Soeharto lengser mulai tampak. Bahkan sebuah angket ajakan pengunduran diri meluncur dari Kantor Bappenas dan beredar di kalangan Menteri Kabinet Pembangunan VII.

"Sebagai Menkeu saya mencoba melepaskan diri dari masalah perpolitikan dan bekerja sebagai profesional. Makanya saya tidak mau tandatangani angket pengunduran diri. Itu politik," tegas Fuad.

Loyalitas Diuji

Rabu, 20 Mei 1998, sebanyak 14 menteri yang dipimpin oleh Ginandjar Kartasasmita menyatakan menolak untuk melanjutkan tugasnya sebagai pembantu Soeharto. Ke-13 menteri lain yang mundur adalah Akbar Tanjung, A.M. Hendropriyono, Giri Suseno Hadihardjono, Haryanto Dhanutirto, Justika S. Baharsjah, Kuntoro Mangkusubroto, Rachmadi Bambang Sumadhijo, Rahadi Ramelan, Subiakto Tjakrawedaya, Sanyoto Sastrowardoyo, Sumahadi, Theo L. Sambuaga, dan Tanri Abeng.

Malam harinya, Presiden Soeharto memanggil Saadillah Mursjid, Menteri Negara Sekretaris Negara. Setibanya di Cendana, Saadilah dibuat kaget oleh keingingan Soeharto meletakan jabatan yang telah dipegangnya selama 32 tahun.

Tak lama berselang, sekitar pukul 19.30 WIB, Wakil Presiden B.J. Habibie juga tiba di Cendana. Setelah mendapat kepastian Habibie siap memegang tongkat estafet kepresidenan, Soeharto lantas meminta Saadilah memanggil Ketua Mahkamah Agung (MA) Sarwata bin Kertotenoyo untuk bisa melantik Habibie sebagai presiden pada esok harinya.

"Saya tahu betul karena selalu berinteraksi dengan orang dalam Cendana," kata Fuad.

DPR Tak Boleh Masuk

Kamis pagi, 21 Mei 1998, Istana Negara mendadak ramai. Sejumlah pejabat negara dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tampak hadir. Kecuali, 14 menteri yang telah menyatakan mundur dari kabinet sehari sebelumnya.

Di sebuah ruang khusus, Presiden Soeharto dengan mengenakan setelan safari dan kopiah hitam berdialog dengan Saadillah Mursjid. Dia meminta Saadillah agar mengupayakan politisi DPR tidak masuk ruangan tersebut. Alhasil para delegasi Senayan hanya bisa menunggu di ruang tamu.

Tepat pukul 09.00 WIB, dihadapan pimpinan MA, Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia yang kedua setelah mempertimbangkan berbagai hal.

"Jadi Pak Harto sendiri yang mengatur pengunduran dirinya," tutur Fuad Bawazier.

Usai serah terima jabatan, secara otomatis Fuad Bawazier berstatus demisioner sebagai Menteri Keuangan. Selama dua hari setelah pengunduran diri Soeharto, Fuad masih datang ke Cendana.

"Hanya ngobrol biasa, tidak ada amanat khusus," kisah Fuad.

Soeharto sempat bercerita pada Fuad Bawazier soal alasannya berhenti sebagai presiden. "Saya merasa publik sudah tidak mempercayai saya sebagai presiden, dan sebagian menteri mengatakan tidak mau lagi (membantu saya), ya sudah saya berhenti," ujar Soeharto seperti dikisahkan Fuad. (gen)