Akuisisi Saham Taksi Express oleh Saratoga Belum Jelas

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2015 13:59 WIB
Armada taksi Ekspress saat mencari penumpang di kawasan Jakarta Pusat, Rabu, 3 Juni 2015. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana Saratoga Investama Sedaya, perusahaan investasi milik Sandiaga Uno dan William Soeryadjaya untuk mengambil alih 51 persen saham operator taksi PT Express Transindo Utama Tbk dari Grup Rajawali Corpora masih belum jelas.

“Kami sudah dapat surat rencana akuisisi dari Saratoga. Namun sampai sekarang belum ada proses lebih lanjut,” ujar David Santoso, Direktur Keuangan Express di Jakarta, Rabu (3/6).

Seperti diketahui, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada Sabtu (18/4), Saratoga dan Rajawali Corpora telah menandatangani rencana akuisisi sekitar 1,094 miliar saham Express dari Rajawali Corpora. Namun, perseroan tidak mengungkapkan nilai atau kondisi akuisisi Express, mengingat bahwa kedua perusahaan masih dalam proses negosiasi.


“Saya kira negosiasi masih berjalan. Hal tersebut sepenuhnya tergantung dari pemegang saham pengendali. Karena itu kami belum bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai akuisisi saham tersebut,” jelas David.

Ia mengungkapkan, manajemen memandang bahwa rencana akuisisi saham tersebut sangat baik karena Saratoga memiliki pengalaman yang mumpuni di bidang industri otomotif.

“Kita semua tahu Pak William Soeryadjaya dan Sandiaga berkompeten di bidang otomotif. Ada darah bisnis otomotif dari perusahaan tersebut,” jelasnya.

Pelemahan Kinerja

Sementara itu, terkait kinerja Express pada tahun ini, David mengakui pihaknya menghadapi berbagai tantangan. Terutama karena perlambatan ekonomi, naiknya harga BBM, serta meningkatnya inflasi.

Seperti diketahui, Express membukukan pendapatan Rp 247,09 miliar sepanjang kuartal I 2015, atau naik dari posisi Rp 182,01 miliar di kuartal I 2014. Namun laba bersih Express turun menjadi Rp 20,32 miliar, dari Rp 29,21 miliar di kuartal I 2014. Beban bunga tumbuh 82 persen secara tahunan menjadi Rp 1 triliun karena penerbitan obligasi untuk ekspansi armada pada 2014.

“Laba bersih memang turun karena menurunnya daya beli di masyarakat terkait perlambatan ekonomi. Harga BBM dilepas dan inflasi naik ditambah dolar Amerika Serikat menguat,” jelas David

Dia menambahkan, dari sisi kinerja sektor otomotif sendiri terjadi penurunan yang lumayan besar. Hal itu, lanjutnya, secara tidak langsung berdampak bagi perseroan. Pihaknya sendiri saat ini lebih mengutamakan peremajaan armada ketimbang membeli armada baru.

“Armada tidak akan beli banyak utamanya tetap peremajaan. Kami juga lebih fokus ke sektor IT,” jelasnya.

David menjelaskan, dari dana belanja modal sebesar Rp 430 miliar, pihaknya sudah menghabiskan sekitar Rp 100 miliar dengan belanja terbanyak di bidang IT. Adapun hal itu diharap bisa mendongkrak pendapatan agar sesuai target.

“Belum ada koreksi target pendapatan. Revenue masih kami targetkan naik 20-30 persen, tapi saya akui laba bersih bakal mendapat tekanan,” jelasnya (gen)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK