“Pak Menteri akan bertemu dengan perwakilan Iran, Irak, Angola, Arab Saudi dan Kuwait. Mungkin nanti sore atau malam. Kan pertemuannya selama dua hari," ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Dadan Kusdiana saat dihubungi, Kamis (4/6).
Dadan mengungkapkan, pada pertemuan bilateral tersebut pemerintah akan membahas lebih detil mengenai rencana pembelian minyak langsung berikut kerjasama di bidang pengolahan minyak mentah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengungkapkan, jika kesepakatan awal sudah tercapai antara pemerintah dengan perwakilan lima negara itu nantinya akan ditindaklanjuti oleh PT Pertamina (Persero) selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Sebagai informasi, seminar OPEC kali ini akan membahas isu-isu terkini mengenai kondisi industri minyak dan gas dunia lantaran dihadiri oleh menteri-menteri negara anggota OPEC dan petinggi perusahaan minyak internasional.
Dimana acara seminar akan dibagi kedalam lima sesi Program Internasional OPEC meliputi: Gambaran Umum Energi Global, Stabilitas Pasar Minyak, Kapasitas dan Investasi Produksi, Teknologi dan Lingkungan, dan Diskusi Panel bertema Prospek untuk Ekonomi Dunia dengan pembicara adalah Menteri-Menteri Energi negara anggota OPEC, Sekretaris Jenderal OPEC, dan CEO perusahaan minyak dunia.
Selama mengikuti kegiatan tersebut, Sudirman Said akan didampingi oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi I Gusti Nyoman Wiratmaja.
Beda Kepentingan
Sebelumnya Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mempertanyakan alasan pemerintah yang hendak bergaul lagi dengan OPEC. Terutama setelah pada 2008, Indonesia menangguhkan keanggotaannya akibat status sebagai negara pengekspor minyak tergerus oleh kegiatan impor yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. (Baca juga: Masuk OPEC, Indonesia akan Konflik dengan 12 Negara Eksportir)
"Kalau pun dimungkinkan bisa masuk (OPEC), lalu kepentingan Indonesia selaku importir dengan negara eksportir akan berbeda. Eksportir ingin kecenderungan harga minyak tinggi, sedangkan importir inginnya harga murah," ujar Komaidi.
Berdasarkan pengamatan Komaidi, produksi minyak mentah Indonesia anjlok sejak sepuluh tahun terakhir. Apabila pada era 1990 Indonesia punya cadangan minyak sekitar 9 miliar hingga 12 miliar barel, saat ini cadangan tersebut menyusut drastis tinggal 3,7 miliar barel.
"Pada 1990-an produksi minyak kita sekitar 1,5 juta barel per hari (bph) dengan tingkat konsumsi domestik sekitar 500 ribu barel bph. Saat ini kebalik, produksi tidak dampai 800 ribu bph, tetapi konsumsinya mencapai kisaran 1,5 juta bph," tuturnya.
Defisit neraca minyak yang membengkak, kata Komaidi, menjadi alasan Pemerintah Indonesia untuk membekukan keanggotaaanya pada 2008 dan memutuskan keluar pada tahun berikutnya. Dengan kondisi perminyakan yang tidak bertambah baik, Komaidi mempertanyakan kelaikan Indonesia untuk masuk lagi ke dalam OPEC.
"Setahu saya OPEC itu kan anggotanya negara-negara pengekspor minyak, sedangkan Indonesia net importir. Apakah laik? Contoh geng motor, anggotanya harus punya motor. Begitu juga OPEC, anggotanya harus pengekspor minyak," jelasnya. (gen)