"Ini gejolak sesaat karena ada penguatan dolar AS. Ini concern bukan hanya kita, tapi juga seluruh dunia mata uangnya tergerus," ujar Bambang di kantor pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Ahad (14/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memastikan kondisi ekonomi terjaga, Bambang menekankan pemerintah dan Bank Indonesia akan bekerjasama dalam mengendalikan inflasi. Hal ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan investasi tak terlalu terpukul sehingga bisa keduanya bisa menjadi motor pertumbuhan hingga akhir tahun.
Dia berharap perbaikan kondumsi dan investasi di kuartal II akan menumbuhkan ekonomi lebih tinggi dari kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. "Pokoknya kami upayakan pertumbuhan ekonomi lebih baik dari tahun lalu," katanya.
Sebagai informasi, pada perdagangan pekan lalu rupiah sempat menembus Rp 13.300 per dolar As yang merupakan level terendah sejak krisis 1998. Kondisi ini membuat bank sentral cemas dan meminta publik mewaspadai perang kurs (currency war) di antara negara-negara yang memiliki kekuatan ekspor. (Baca juga: Rupiah Makin Loyo, Gubernur BI: Waspadai Perang Kurs)