“Indikasinya, di dalam negeri, impor buah dari luar negeri dan impor sayur itu menurun. Indikasi kedua adalah produk-produk buah dan sayur kita juga diminati di mancanegara walaupun masih kecil,” tutur Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina ketika ditemui usai menghadiri sebuah acara di Tangerang, Jumat (12/6).
Diakuinya, Indonesia masih lebih banyak mengimpor sayur dan buah dari luar negeri dibandingkan mengekspor hasil produksi lokal. Meskipun demikian, Srie optimistis ke depannya, gap antara impor dan ekspor produk hortikultura dapat mengecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, apabila melihat data kuartal pertama tahun ini, impor buah dan sayur sudah terlihat menurun. Tercatat, impor buah dan sayur pada triwulan pertama 2015 sebesar 259 ribu ton atau turun 29,2 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan dari segi nilai, kuartal pertama tahun ini impor produk hortikultura sebesar US$ 250,6 juta atau turun sekitar 28,8 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 352,1 juta.
Pada kuartal pertama tahun ini pun, ekspor buah dan sayur masih menunjukkan tren kenaikan yang sama. Tercatat, ekpor buah dan sayur pada tigabulan pertama tahun ini mencapai 303,4 ribu ton, atau naik 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan nilai US$ 213,1 juta atau naik 43 persen.
Adapun buah dan sayur yang banyak diimpor antara lain apel, jeruk, anggur, bawang putih dan kacang-kacangan yang berasal dari beberapa negara asal impor utama diantaranya Tiongkok, Amerika Serikat, dan Thailand. Sedangkan, untuk buah dan sayur yang banyak diekspor adalah pisang, manggis, kol, dan beberapa jenis kacang. Buah dan sayur tersebut diekspor ke beberapa negara diantaranya Pakistan, Vietnam, Tiongkok, Filipina, dan Singapura.
Dalam kesempatan yang sama, Srie mengungkapkan, peluang untuk petani lokal menggarap permintaan buah dan sayur untuk kelas menengah ke atas masih terbuka lebar.
“Permintaan mereka (kelas menengah ke atas) itu mulai beda. Jadi bukan pemenuhan buah dan sayur saja, tetapi pemenuhan buah yang organik, sayur yang organik, makanan yang tanpa pestisida, makanan yang sehat,” tutur Srie.
Oleh karenanya, Srie mengimbau petani lokal untuk mulai meningkatkan kualitas, tidak hanya terfokus pada upaya peningkatan kuantitas produksi. (gir/gir)