"Jika tingkat suku bunga acuan diturunkan, maka pengembalian dari sisi investasi akan menjadi lebih kecil. Dengan depresiasi rupiah yang diprediksi hingga akhir tahun, saya rasa menurunkan BI rate akan sangat kurang menarik dari sisi mata uang," jelasnya di Jakarta, Rabu (17/6).
Malah, ia berprediksi bahwa rupiah akan terus semakin melemah jika BI Rate semakin diturunkan. Maka dari itu, akan lebih aman jika BI tetap mematok angka BI Rate tetap di angka 7,5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tanpa menurunkan BI Rate pun rupiah dipastikan semakin terperosok apabila normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat tak segera dilaksanakan. Karena sejak digaungkan tahun lalu, antisipasi atas pengumuman kenaikan suku bunga acuan AS selalu membuat tekanan terhadap mata uang lain.
"Setiap kali menjelang Federal Open Market Committee (FOMC) meeting, pressure ke currency selalu terjadi, tapi tekanan itu memang ada di semua mata uang di semua negara yg perekonomiannya mengandalkan sektor ekstraktif," terangnya.
Keputusan mempertahankan BI Rate itu dijalankan selama tiga bulan berturut-turut mengingat BI memprediksi inflasi tahunan masih berada di kisaran 4 plus minus 1 persen dan defisit transaksi berjalan masih bisa diarahkan di angka 2,5 hingga 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kendati demikian, pada bulan lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla justru menginginkan BI Rate diturunkan pelan-pelan karena pemerintah menginginkan adanya investasi dengan suku bunga rendah. (gir/gir)