Penempatan mantan direksi bank-bank BUMN dilakukan karena Ahok ingin segera mewujudkan mimpinya membawa Bank DKI ke dalam Bank Umum Kategori Usaha (BUKU) 4. Menurut Ahok, direksi bank-bank BUMN pasti akan lebih memahami cara dan strategi untuk membawa Bank DKI ke dalam BUKU 4 dalam 2 hingga 3 tahun mendatang.
"Kita ambil direksi dari BNI, Mandiri dan dari BCA satu direktur. Kita ambil dari BCA karena beliau mengerti ritel. Komisaris juga ada dari BI. Ada juga yang bagian pengawasan dari BNI," kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (18/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank dengan modal inti dari Rp 5 Triliun sampai dengan Rp 30 Triliun masuk ke dalam BUKU 3. Terakhir, bank dengan modal inti di atas Rp 30 Triliun berhak masuk ke dalam kategori BUKU 4.
Jumlah modal inti Bank DKI sampai saat ini adalah Rp 4,3 triliun. Sementara, total aset Bank DKI sampai 31 Maret 2015 lalu telah mencapai Rp 37,9 triliun, naik Rp 1,3 triliun dari aset pada akhir tahun lalu sebesar Rp 36,4 triliun.
Selain itu, pergantian direksi serta komisaris dilakukan karena performa Bank DKI di 2014 dipandang mengalami penurunan oleh Ahok. Pasalnya rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross Bank DKI melonjak menjadi 4,81 persen pada kuartal I 2015 dari periode yang sama setahun sebelumnya 2,65 persen.
Sementara, rasio NPL nett juga melonjak menjadi 3,00 persen dibandingkan dengan Januari-Maret 2014 yang mencapai 1,53 persen. NPL gross Bank DKI per Mei 2015 berada pada posisi 5,41 persen dan NPL nett 3,41 persen. Nantinya, target perbaikan yang dibidik oleh perseroan pada kuartal II 2015 adalah NPL gross 2,79 persen dan NPL nett 2,39 persen.
(gir/gir)