Aldian Taloputra, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas mengatakan, kebijakan suku bunga acuan kemungkinan tidak berubah di tengah tekanan inflasi dan volatilitas nilai tukar rupiah.
“Kami tengah melakukan kajian ulang, meskipun neraca perdagangan telah mencatat surplus yang persisten dan kemungkinan menghasilkan defisit transaksi berjalan yang lebih rendah di kuartal II 2015 serta tanda-tanda kelesuan ekonomi, kami berpikir bahwa bank sentral akan mempertahankan BI rate pada level 7,5 persen,” ujarnya dalam riset, dikutip Kamis (18/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Meski begitu, kami masih memproyeksikan ada pemangkasan BI rate sebesar 25 basis poin pada tahun ini, jika tekanan inflasi dan nilai tukar rupiah stabil di semester II 2015,” jelasnya
“Namun demikian, surplus terjadi karena kontraksi lebih dalam dari sisi impor dibandingkan dengan ekspor, yang merupakan alasan berlawanan dari pandangan kami sebelumnya,” ungkapnya.
Sementara, ekspor turun 4,1 persen secara bulanan dan 15,2 persen secara tahunan pada Mei 2015 yang dipimpin oleh barang-barang komoditas. Ekspor minyak dan gas turun 6,03 persen secara bulanan, sedangkan non migas melemah, yang dipimpin oleh ekspor yang lebih rendah pada CPO dan batubara
“Menariknya, penurunan ekspor adalah sebagai konsekuensi dari penurunan yang signifikan pada volume karena harga komoditas utama benar-benar meningkat pada periode yang sama. Volume ekspor non migas mengalami kontraksi 12,9 persen secara bulanan dan 20,4 persen secara tahunan, yang menunjukkan permintaan ekonomi global tetap melemah,” katanya.
“Fakta bahwa impor volume impor Mei 2015 turun 10,5 persen secara bulanan, atau 3,7 persen secara tahunan dibanding periode lalu, yang umumnya cenderung meningkat 1-2 bulan sebelum bulan puasa, menunjukkan bahwa ekonomi melambat sejak memasuki bulan kedua dari kuartal II 2015,” katanya. (gir/gir)