“Dari segi pertumbuhan penjualan, saya kira bisa tumbuh sekitar 20 sampai 25 persen setelah adanya pelonggaran LTV ini,” ujar Sutoto Yakobus, Direktur Ciputra Surya saat dihubungi CNN Indonesia, Kamis (25/6).
Ia menjelaskan, adanya pelonggaran LTV yang menyebabkan uang muka kredit properti dipangkas, bakal membuat konsumen semakin mudah menjangkau produknya. Sutoto menilai sebelumnya terjadi pelemahan daya beli yang berimbas ke performa penjualan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mencontohkan, salah satu proyeknya, Ciputra World Surabaya, dalam enam bulan bisa meraih penjualan hingga level Rp 700 miliar. Hal itu, lanjut Sutoto, menunjukkan daya beli di Surabaya belum turun signifikan.
“Harapan kita, persyaratan KPR inden juga bisa diperlunak. Itu gunanya untuk menjaga arus kas pengembang properti,” jelasnya.
Seperti diketahui BI telah melonggarkan aturan loan to value (LTV) untuk kredit rumah dan apartemen di atas 70 meter persegi, dari 70 persen menjadi 80 persen. Sehingga uang muka (down payment/DP) yang harus disediakan calon pembeli tidak lagi minimal 30 persen melainkan cukup 20 persen. Pelonggaran LTV juga diterapkan untuk kredit rumah kedua dan ketiga.
Kebijakan BI tersebut tertuang dalam PBI No.17/10/PBI/2015 tentang Rasio LTV atau Rasio Financing to Value untuk Kredit atau Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor, yang berlaku sejak tanggal 18 Juni 2015. Hal itu dilakukan guna mendorong pertumbuhan kredit dan ekonomi yang sedang melemah.
Berdasarkan data BI per April 2015, perbankan mengalami perlambatan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang diikuti dengan kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).
Kemudian, DPK tumbuh 14,2 persen per April 2015, dari pertumbuhan 16,0 persen per Maret 2015. Serta, NPL netto naik 0,1 persen menjadi 2,5 persen per April 2015, dari posisi 2,4 persen per Maret 2015. (gir/gir)