Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan inflasi Juni yang diperkirakan tinggi, membuat yield SUN mulai naik. Selain kekhawatiran terhadap situasi di Yunani, perkiraan akan tingginya inflasi Juni kembali memberi tekanan terhadap harga SUN serta nilai tukar rupiah.
"Pertumbuhan yang tertekan terutama akibat penurunan daya beli masyarakat juga berpeluang kembali tertekan dengan inflasi yang naik tajam. Angka inflasi Juni diperkirakan naik ke 7,4-7,5 persen secara tahunan," tulisnya dalam riset, dikutip Rabu (1/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepanikan dipicu oleh kenaikan tajam yield obligasi Yunani (tenor 10 tahun sudah mencapai 15 persen) seiring dengan meningkatnya peluang keluarnya Yunani dari Zona Euro, hampir semua bursa saham dan mata uang dunia melemah tajam.
Rangga menjelaskan, rupiah akan melemah, sementara yield SUN terus naik. Menurutnya rupiah melemah mengikuti penguatan dollar di pasar global seiring dengan kisruh utang di Yunani.
"Walaupun secara fundamental pengaruh perekonomian Yunani minimal terhadap Indonesia, dampak jangka pendek dari penyesuaian portfolio global dipastikan masih akan menekan baik rupiah, IHSG serta SUN," jelasnya.
Pasalnya, tingginya kepemilikan asing di pasar saham dan obligasi yang ada bisa mengancam stabilitas pasar keuangan terutama jika Yunani benar-benar keluar dari Zona Euro. Sementara angka inflasi diperkirakan naik sehingga akan menambah sentimen negatif kepada rupiah.
Ekonom PT Mandiri Sekuritas Leo Rinaldy menyatakan pihaknya memprediksi indeks harga konsumen (IHK) Juni akan mengalami inflasi 0,63 persen secara bulanan, atau naik dari 0,5 secara bulanan pada Mei.
"Membentuk inflasi year-on-year 7,36 persen dari 6,8 persen pada periode yang sama tahun lalu," jelasnya.
Sementara, Leo mengatakan inflasi inti diprediksi masih tidak berbahaya, yaitu di level 5,04 persen secara tahunan. Pihaknya juga memprediksi Bank Indonesia akan menetapkan kembali BI rate di level 7,5 persen dalam rapat dewan gubernur selanjutnya pada 14 Juli. (gen)