“Kami lagi persiapan untuk meluncurkan layanan heli city transport. Jadi kita pindah dari contract basis business masuk ke end user basis business,” kata CEO sekaligus pendiri Whitesky, Denon Prawiratmadja di Jakarta, Jumat (10/7).
Ketua Maskapai Penerbangan Tidak Berjadwal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesian National Air Carriers Association/ INACA) ini menuturkan, pekerjaan berbasis kontrak biasanya didapatkan dari klien perusahaan minyak dan pertambangan. Sementara itu, harga dan permintaan di komoditas tersebut tengah terpuruk sehingga berdampak pada turunnya permintaan di penerbangan charter. Kondisi ini, ujar Denon, memaksa perusahaan penerbangan charter melakukan diversifikasi usaha, salah satunya dengan menyediakan layanan helikopter ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Indonesia dengan jumlah populasi (penduduk) nomor 4 di dunia itu cuma memiliki sekitar 200 helikopter. Itu untuk wilayah seluas Indonesia,” kata Denon.
Selama ini, lanjut Denon, biaya sewa helikopter dinilainya cukup tinggi sehingga peminatnya terbatas. Diketahui tarif rata-rata sewa helikopter per jam adalah Rp 35 juta, dengan minimal sewa per dua jam atau RP 70 juta. Oleh karenanya, Denon harus memutar otak agar biaya sewanya dapat turun dan sesuai kebutuhan pelanggan. Targetnya, pelanggan bisa menikmati layanan ini dengan mengeluarkan biaya paling tidak Rp 35 – Rp 40 juta saja.
“Kami sedang coba untuk breakdown cost layanan heli city transport. Cost-nya akan kita hitung benar-benar supaya lebih terjangkau,” tutur Denon.
Tahun ini, Denon telah menyiapkan lima helikopter untuk mengoperasikan layanan ini. Tahun depan, diharapkan dapat menambah dua unit helikopter lagi.
“Sekarang utilisasi helikopter saya per bulan itu masih 10 jam per helikopter. Target saya kalau misalnya heli city trasport ini successfull utilisasinya bisa 30 jam per helikoper per bulan,” kata Denon.
Selanjutnya, Denon menjelaskan, layanan ini rencananya akan melayani rute Jakarta – Bandung, Jakarta – Cikampek dan Jakarta – Cilegon. Adapun penjemputan (pick-up) dan penurunan penumpang (drop-off) akan dilakukan di lokasi helipad terdekat dengan pelanggan, tidak harus di bandara.
“Memang pendekatannya tidak akan seperti airlines berjadwal. Layanan ini akan charter basis tapi flexibilitynya bisa pick up di mana saja, di luar airport, terus bisa drop off di mana saja, tidak harus di airport,” kata Denon.