Ketua Umum AISI Gunadi Sindhuwinata mengatakan penjualan ekspor akan tumbuh terus setiap tahun dan bisa mencapai dua kali lipat. Ia menjelaskan, hal itu karena adanya pasar baru, harga yang kompetitif dan model yang cukup atraktif dan ini alternatif baru bagi mereka.
“Tahun lalu ekspor sekitar 41 ribu unit. Sementara tahun ini bisa mendekati 100 ribu unit,” ujarnya dalam acara silaturahmi Lebaran di rumah dinas Menteri Perindustrian, Jakarta, Jumat (17/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Karena untuk keperluan sehari-hari lebih mudah (sepeda motor kecil). Lagipula buat mereka enteng saja, artinya dengan uang sekitar 1.000 euro sudah bisa mendapatkan motor,” jelasnya.
Padahal, sebelumnya AISI udah merevisi target penjualan tahun ini dari awalnya 7,7 juta unit, menjadi 6,7 juta unit saja. "Tahun ini kami perkirakan hanya sampai 6,1 sampai 6,2 juta unit saja untuk penjualan. Hal itu turun dari target awal 7,7 juta unit pada tahun ini," ujarnya.
Terkait adanya pelonggaran kredit melalui penurunan besaran uang muka, Gunadi mengatakan hal itu tidak berdampak signifikan. Masalahnya, uang muka yang turun membuat cicilan malah bertambah besar, jika tenggat pinjaman tidak diperpanjang.
"Karena uang muka hanya turun menjadi 15 persen dari 20 persen, hal tidak berarti. Karena bagaimanapun juga konsumen tetap harus membayar cicilan tiap bulan. Sedangkan industri pembiayaan tidak bisa memperpanjang tenggat untuk kredit, misalnya dari tiga tahun menjadi lima tahun, karena mereka takut kredit macet naik," ujar Gunadi.
“Pokoknya setelah lebaran ini semua anjlok. Penjualan mobil, motor, dan ritel turun, juga lainnya. Ya naik ini hanya karena Lebaran saja, habis itu pasti turun lagi,” ujarnya. (gir/gir)