Adriyanto Djokosoetono, Ketua Umum DPP Organda mengatakan sejak awal pihaknya sudah mengantisipasi akan ada penurunan jumlah pemudik pengguna angkutan darat sekitar 20 persen pada tahun ini. Selain karena pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang meningkat, diskon jalan tol dan program mudik bareng korporasi juga dinilai sebagai penggerus rezeki pengusaha transportasi darat.
"Belum lagi ditambah adanya erupsi Gunung Raung yang membuat beberapa rute dialihkan. Perkiraan kami turun 20 persen," ujarnya kepada CNN Indonesia, Senin (20/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ada mudik bareng yang diinisiasi BUMN dan perusahaan-perusahaan. Meskipun mereka charter bus PO, tapi kan tidak tercatat sebagai pemudik yang menggunakan angkutan darat," tuturnya.
"Selain itu, perusahaan bus juga harus memperhitungkan jumlah penumpang yang terangkut tak hanya pada keberangkatan, tapi juga kepulangan. Biasanya berangkatnya penuh, pulangnya kosong," tuturnya.
Adriyanto mengakui keamanan dan kenyamanan merupakan kritik paling santer yang kerap dialamatkan ke pengusaha angkutan darat. Menurutnya, moda transportasi darat selama ini tidak diberikan dukungan kemanan dan fasilitas khusus laiknya angkutan laut dan udara.
"kalau jalur angkutan darat mana bisa steril seperti di laut dan udara. Masalahnya bagaiman apolisis dan aparat keamanan melakukan pengamanan dan penertiban angkutan ilegal," katanya.
"Belum lagi soal terminal yang sampai saat ini tidak bisa seperti bandara dan stasiun yang bersih dari kepentingan calo dan pedagang," katanya.
Untuk itu, Adriyanto berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap angkutan darat. Antara lain rekomendasinya adalah memperbaiki sarana dan prasarana terminal, serta melarang mudik menggunakan motor atau kendaraan pribadi lainnya.