Dikutip dari Reuters, Rabu (22/7), koreksi terjadi setelah Apple merilis proyeksi penurunan laba. Perkiraan tersebut justru muncul di tengah penjualan yang kuat produk-produk Apple di China, yang diprediksi mencapai US$ 13,23 miliar atau meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apple melaporkan jumlah iPhone yang terjual dalam tiga bulan terakhir hanya 47,5 juta unit, meningkat 35 persen dari penjualan tahun lalu. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dari proyeksi sejumlah analis yang disurvei Thompson Reuters, yakni mencapai 49 juta unit.
"Di mana Anda akan menemukan pertumbuhan di dunia? " ujar Gillis.
Apple memperkirakan pendapatannya naik pada tahun ini, dari US$ 49 miliar pada tahun lalu menjadi US$ 51 miliar. Namun, proyeksi tersebut meleset dari estimasi rata-rata analis yang dihimpun Thompson Reuters US$ 51,13 miliar.
Perusahaan menyatakan laba bersihnya naik menjadi US$106, 8 miliar atau US$$1,85 per lembar saham, dari posisi tahun lalu US$ 77,5 miliar atau US$ 1,28 per saham.
Sementara analis yang dihimpun Thompson Reuters memperkirakan pendapatan Apple akan mencapai US$ 1,81 per saham.
Pendapatan diproyeksi naik 32,5 persen menjadi US$ 49,61 miliar dari tahun sebelumnya, mengalahkan ekspektasi Wall Street yang sebesar US$ 49,43 miliar. (ags)