Menurut Direktur Utama Bank Jatim R. Soeroso prospek tersebut terlihat dari peningkatan yang cukup signifikan pada unit-unit UMKM di Jawa Timur sebanyak 61,9 persen antara 2013 hingga 2014. Data yang dimilikinya mencatat terjadi pertumbuhan unit UMKM di Jawa Timur dari 4,2 juta di tahun 2013 menjadi 6,8 juta unit di tahun berikutnya.
"Memang visi kami ke depan adalah fokus di pembiayaan yang prospeknya bagus, artinya kami akan berikan porsi lebih untuk pembiayaan yang bisa menyokong wirausaha produktif kelas menengah. Jadi meskipun masih UMKM, tapi kami fokus di segmen menengahnya," jelas Soeroso di Jakarta, Rabu (29/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun hingga semester I tahun ini, perusahaan baru bisa menyalurkan Rp 4,69 triliun, atau 16,58 persen dari total penyaluran kredit sebanyak Rp 28,29 triliun. Demi mencapai target tersebut, perusahaan akan membuat strategic business holding dengan Badan Perkreditan Rakyat (BPR) Jawa Timur pada semester II tahun ini.
Tekan Kredit Macet
Dengan memasang target tersebut, Soeroso juga berharap dapat mengurangi NPL bank secara total dari 3,31 persen pada tahun lalu menjadi 2,8 persen di tahun ini. Menurut Direktur Bisnis Menengah dan Korporasi Bank Jatim Su'udi, NPL yang dihasilkan dari kredit UMKM cenderung lebih kecil dibandingkan kredit-kredit lainnya, bahkan NPL di pembiayaan sektor mikro telah berada di angka 0,00 persen.
"Jadi memang selama ini kredit komersil berpengaruh besar terhadap NPL kita yang sebesar 3,82 persen di semester I kali ini. Jadi dengan mengurangi porsi kredit komersial dan konsumer serta memperbesar porsi kredit UMKM, kami harap NPL bisa ditekan," tambah Su'udi kepada CNN Indonesia ketika ditemui di kesempatan yang sama.
Khusus di sektor kredit UMKM yang mencapai 4,69 triliun, sebanyak 15,68 persen diperuntukkan bagi kredit usaha rakyat (KUR), 23,65 persen bagi kredit Pundi Kencana, 10,28 persen bagi kredit UMKM, dan sisanya bagi kredit UMKM lainnya.
Selain itu, pada tahun ini Bank Jatim berharap bisa meningkatkan penyaluran kredit sebanyak 20 persen dari posisi tahun lalu, yaitu dari Rp 26,19 triliun menjadi Rp 31,43 triliun. (gen)