Direktur Utama BRI, Asmawi Syam mengakui meskipun laba tumbuh, tetapi pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, perlambatan kredit yang ditandai dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) menjadi penyebabnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Idealnya income tumbuh karena Net Interest Margin (NIM) naik, kredit tumbuh, NPL rendah. Sayangnya, kredit tak seluruhnya memberi repayment yang diharapkan, jadi di kuartal II biaya cadangan yang kami cadangkan naik 60 persen. Mau tak mau harus kami keluarkan dan menurunkan pertumbuhan profit jadi 1,16 persen," jelas Haru.
"Kendati kinerja membaik, tapi kondisi ini tidak terelakkan. Makanya kami juga rencanakan untuk menambah coverage ratio CKPN dari 141 persen di semester I tahun ini ke angka 150 persen hingga akhir tahun mendatang. Ke depan kami jaga di level 150 persen," tuturnya.
Dengan adanya rencana ini, maka perusahaan juga memastikan pertumbuhan laba tahun ini tak akan mencapai 10 persen. Dengan demikian, maka sudah dipastikan pertumbuhan laba BRI hingga akhir tahun lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya, di mana bank mencatat pertumbuhan laba sebesar 14,35 persen.
"Kami targetkan single digit saja untuk laba, tapi yang pasti angka tersebut mendekati dua digit. Tentunya karena NPL naik yang disettai tambahan coverage ratio provisioning," ujar Haru tanpa mau membeberkan angka pasti pertumbuhan laba tersebut.
Sebagai informasi, NPL terbesar perusahaan disebabkan oleh sektor korporat dimana NPL tercatat di angka 3,28 persen di semester I 2015. Untuk mempertahankan laba, perusahaan menargetkan margin bunga bersih (NIM) sebesar 8 persen hingga akhir tahun, atau lebih besar 0,5 persen dibandingkan semester I tahun ini yang sebesar 7,5 persen.