“Rencana kami pertumbuhan kredit tahun ini bisa mencapai 30 persen menjadi sekitar Rp 2 triliun. Dananya dari hasil IPO ini,” ujar Direktur Utama Bank Harda Antonius Prabowo Argo, usai pencatatan saham di auditorium Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/8).
Seperti diketahui dalam gelaran IPO tersebut, Bank Harda melepas 800 juta saham dengan harga perdana per saham sebesar Rp 125. Dengan jumlah IPO tersebut, Bank Harda bakal meraup dana hingga Rp 100 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah IPO, kepemilikan saham Bank Harda berubah menjadi sebesar 72,66 persen digenggam PT Hakim Putra Perkasa, 21,43 persen dimiliki publik, sebanyak 5,43 persen dimiliki Kwee Sin To, dan sisanya 0,03 persen milik Karyawan Bank Harda.
Bidik Sektor Ritel
Ia menyatakan, salah satu sektor yang sedang dibidik Bank Harda untuk menggenjot pertumbuhan kreditnya adalah sektor ritel. Antonius menilai sektor ritel cenderung masih bertumbuh positif di situasi ekonomi yang melemah saat ini.
Antonius menjelaskan, beberapa sektor yang kurang bagus kinerjanya saat ini antara lin pertambangan, transportasi dan konstruksi serta properti. Ia mengungkapkan sektor tersebut membuat rasio kredit macet (non performing loan/NPL) perseroan di level yang cukup tinggi.
“NPL kami saat ini di level 2,7 persen. Tahun ini kami targetkan bisa menurun ke level 2 persen,” jelasnya.
Dari sisi kinerja keuangan, Bank Harda menargetkan mampu mencatatkan laba bersih senilai Rp 10 miliar. Padahal, jika ditilik dari laporan keuangan, laba bersih perseroan pada tahun lalu mencapai Rp 12,44 miliar. (gen)