"Dunia usaha selalu 100 persen di belakang pemerintah, tapi jangan sampai kebijakan yang dibuat pemerintah kontraproduktif dengan dunia usaha. Sepanjang semester I yang lalu, banyak sekali kebijakan yang seperti itu, padahal dunia usaha memiliki posisi di lini depan perekonomian nasional," ujar Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani melalui sambungan telepon, Kamis (13/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, ia menganggap bahwa apa yang terjadi di semester I lalu sebagai pelajaran berharga baik bagi pemerintah maupun dunia usaha. Ia berharap adanya koordinasi lebih harmonis antara kedua belah pihak pada semester II mendatang.
Menurut catatan CNN Indonesia, ada beberapa kebijakan pemerintah yang dianggap memberatkan pengusaha dan ditentang Apindo pada semester I lalu.
Salah satunya adalah kebijakan penghapusan UU Nomor 7 tahun 2004 mengenai Sumber Daya Air (SDA), yang menyebabkan penggunaan air bagi industri menjadi prioritas terbawah dalam penggunaan SDA secara keseluruhan. Selain itu, kebijakan tersebut juga disinyalir menghambat investasi yang masuk ke Indonesia, seperti PT Coca Cola Amatil Indonesia yang terpaksa harus menunda perluasan investasi sebesar US$ 500 juta dari rencana awal tahun ini.
Di samping itu, angka penetapan iuran pensiun yang ditetapkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan juga sempat ditentang Apindo karena dianggap memberatkan dunia usaha. Pada saat itu, Apindo menolak untuk membayar iuran sebesar 8 persen karena akan terjadi pemutusan tenaga kerja secara masif jika dunia usaha mengikuti keinginan BPJS tersebut. (ags)