Kejatuhan rupiah, kata Drajad, membuat iklim usaha di dalam negeri memburuk. Hal ini secara otomatis berpengaruh terhadap kinerja ekonomi nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati tidak bisa dihindari, kata Drajad, pelemahan kurs seharusnya bisa diredam oleh pemerintah agar kejatuhan rupiah tidak terlalu dalam. "Rupiah menjadi mata uang kedua terburuk di Asia setelah ringgit. Seharusnya depresiasi ini bisa ditahan,” katanya.
Menurut Drajad, yang salah dari kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi adalah kurangnya realisasi. Padahal, Indonesia punya potensi sumber daya yang cukup besar untuk bisa dioptimalkan.
"Pemerintah terlalu banyak omong, namun kurang konsistensi dan implementasi,” tuturnya.
Salah satu kebijakan yang dikritik Drajad antara lain rencana kenaikan sejumlah tarif pajak yang justru memicu pelarian investasi. “Kalau menguber-nguber pajak begitu, orang bisa lari. Harus liat timing” katanya. (ags)