Dari catatan BPS, pada periode Januari hingga Juli 2015 kemarin komoditas ekspor pertambangan meliputi bijih, kerak, dan abu logam tercatat telah menyentuh angka US$ 1,95 miliar atau mencapai Rp 26 triliun.
Angka ini diketahui meningkat 483 persen ketimbang periode yang sama tahun sebelumya yang hanya mencapai US$ 334,6 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski mengalami peningkatan yang signifikan, Adi bilang, kontribusi beberapa komoditas tambang tadi masih tergolong kecil terhadap total capaian ekpor pada periode Januari-Juli 2015 yang jumlahnya hanya mencapai 2,49 persen. (Baca: Pemerintah Janjikan Perbaikan Iklim Investasi Pertambangan)
"Tapi karena (smelter) sudah dibangun maka ekspor pertambangan terjadi peningkatan yang cukup signifikan," tambah Adi.
Sebagai informasi, di sepanjang medio Januari hingga Juli 2015 total total ekspor Indonesia tercatat menyentih US$ 89,76 miliar, atau turun 12,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (Simak juga: Pemerintah Bakal Ubah Aturan Izin Pertambangan)
Adi mensinyalir adanya penurunan total ekspor dikarenakan adanya penurunan ekspor nonmigas selama periode tujuh bulan pertama 2015 yang hanya mencapai US$ 78,37 miliar, turun sekitar 7,55 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu US$ 84,77 miliar. (dim/gen)