Reuters mencatat, rupiah sampai saat ini telah anjlok 12,95 persen sejak dibuka pada awal perdagangan tahun ini di level Rp 12.400 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Investor dalam negeri, lanjut Anton, sebenarnya lebih banyak menunggu dan mengikuti strategis yang diambil oleh investor luar negeri. Sementara investor asing selain memperhatikan kondisi domestik Indonesia, juga mempertimbangkan peluang global.
Sementar dari dalam negeri, lanjutnya, struktur ekonomi dan pasar uang Indonesia yang mirip-mirip dengan Malaysia turut berpengaruh terhadap pelemahan kurs. Indikatornya antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap ekspor komoditas, serta kepemilikan asing yang cukup besar di pasar saham dan obligasi.
"Itu dua yang agak mirip. Walaupun di Indonesia saat ini tidak ada masalah politik yang berat seperti di Malaysia dan Thailand," tuturnya.
Terlepas dari masalah eksternal tersebut, Anton mengatakan ada dua indikator ekonomi utama yang saat ini menjadi perhatian dan pertimbangan investor pasar uang. Pertama adalah perlambatan ekonomi, terutama dari sisi konsumsi yang melemah.
"Pembangunan infrastruktur yang diharapkan bisa meningkatkan konsumsi dan menahan perlambatan ekonomi, itu masih belum terlalu cepat. Karena memang ekspektasinya terlalu tinggi sebelumnya," jelas Anton.
Faktor kedua adalah kejatuhan rupiah yang masih berlanjut. Menurutnya, selama kurs terus melamah, maka pemodal asing di portfolio akan memilih untuk keluar.
"Dari kedua faktor ini, kebijakan fiskal dan moneter diharapkan sejalan dalam mengatasi perlambatan ekonomi. Mau tidak mau harus fokus ke growth di samping melakukan stabilisasi pasar uang," tuturnya.
(ags)