Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menyatakan bahwa kondisi tersebut sudah terjadi, dibuktikan dengan capital outflow besar-besaran beberapa waktu terakhir ini.
Otoritas moneter, dalam hal ini BI dianggap perlu melakukan intervensi moneter lebih agresif lagi demi nilai tukar yang lebih stabil dan berdampak pada tertahannya arus modal keluar dari Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, meningkatnya capital outflow juga perlu diiringi dengan penurunan suku bunga acuan BI Rate untuk tetap menjaga stabilitas arus investasi. Seharusnya, menurut Enny, BI juga memperhatikan hal ini di samping stabilitas makroekonomi seperti inflasi dan juga defisit neraca berjalan.
Sebagai informasi, data Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa aksi beli asing hingga Juli 2015 mencatat angka Rp 3,87 triliun sedangkan aksi jualnya sudah mencapai Rp 600 triliun. Demi mengantisipasi hal tersebut terulang lagi, Enny mengimbau BI untuk segera melakukan stabilisasi nilai tukar dengan hati-hati melakukan intervensi pasar valuta asing.
"Menanggapi permintaan yang tinggi itu, lebih baik BI yang ke pasar langsung, kalau operasi pasar tidak hati-hati kan malah membuang devisa. Seperti tahun 1998 dulu, operasi cadangan devisa kita tergerus tetapi stabilisasi nilai tukar tidak terjadi," ia menambahkan.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar langsung dibuka melemah 66 poin atau 0,47 persen pada perdagangaan Senin kemarin (24/8). Rupiah terpuruk dan sempat mencapai level Rp 14.006 dari sesi penutupan perdagangan hari sebelumnya di Rp 13.940 per dolar. (gen)