“Saya pikir kita tidak bicara krisis saat ini, karena tidak ada indikasi yang menyatakan Indonesia tengah mengalami krisis,” ujar Bambang usai bertemu pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tadi malam di Gedung DPR, Senin (24/8).
Bambang masih meyakini bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan landainya realisasi pertumbuhan ekonomi sampai semester I 2015 di angka 4,7 persen bisa terobati dengan satu resep khusus yaitu peningkatan penyerapan anggaran kementerian/lembaga pemerintah di sepanjang semester II ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali Aburizal Bakrie menyebut kondisi ekonomi Indonesia sudah masuk kategori krisis dan butuh penanganan khusus dari pemerintah.
Oleh karena itu, Ical menilai kebijakan pemerintah yang hanya fokus pada pencapaian target dalam APBN tidak bakal menyelesaikan persoalan. Terlebih penyerapan anggaran pemerintah pada semester pertama jauh di bawah 50 persen. Hal itu dipandang Ical telah semakin menambah beban perekonomian.
"Pemerintah perlu membentuk pusat krisis untuk menangani persoalan yang begini sulit," ujar Ical.
Ia mengaku wacana pembentukan pusat krisis tersebut telah diutarakan olehnya jauh-jauh hari. Dia khawatir sektor perekonomian menurun, dan itu terbukti ketika dia mengaku telah mendapati kabar bursa kembali turun lima persen tadi pagi.
"Saya juga ingin menyampaikan bahwa dolar sudah mencapai Rp 14 ribu. Ini jelas membahayakan perekonomian kita," kata dia.
Bagaimanapun, kata Ical, upaya pencarian jalan keluar kini berada di tangan pemerintah. Presiden Joko Widodo dalam hal ini seharusnya bisa diandalkan menjadi nakhoda pemerintahan lewat koordinasi bersama jajaran kementeriannya. Pusat krisis dianggap salah satu solusinya. (gen)