Menurut Faisal merosotnya nilai tukar dan pasar modal dialami semua negara berkembang tanpa kecuali, bahkan melanda negara yang ekonominya relatif lebih kuat seperti China.
Di tengah kondisi gejolak ekonomi dunia yang makin tidak pasti karena China tak mampu meredam kemerosotan ekonominya serta The Fed yang terus bermain dengan pernyataan akan menaikkan suku bunga, Faisal menilai sebaiknya pemerintahan Joko Widodo bekerja keras untuk melindungi rakyatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sedang dalam tekanan. Penerimaan negara dari pajak dan minyak sangat tertekan, belanja harus dipangkas,” ujar Faisal dikutip dari risetnya, Selasa (25/8).
“Inflasi perlu dijaga di level rendah, terutama harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya,” ujar Faisal.
Ia berpendapat, pemerintah seharusnya bisa memanfaatkan momentum penurunan harga berbagai komoditas di pasar dunia untuk meredam inflasi.
“Memang ada efek negatif terhadap inflasi dari pelemahan rupiah. Namun, penurunan harga-harga komoditas di pasar dunia cukup banyak yang lebih tajam dari penurunan nilai tukar rupiah, sehingga efek nettonya positif terhadap inflasi,” katanya.
Untuk menjaga inflasi agar daya beli masyarakat tidak terjun bebas, Faisal bahkan menyarankan perlunya pemerintah mengambil kebijakan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Harga BBM bersubsidi harus turun dan pemerintah harus mencermati penetapan harga BBM tak bersubsidi agar sesuai dengan aturan Menteri ESDM yang menetapkan margin maksimum 10 persen. Inilah bentuk stimulus nyata bagi rakyat banyak,” tegas Faisal.
Pemerintah menurutnya juga harus terus mempermudah masuknya investasi di sektor riil agar ekonomi Indonesia terus bergerak, tidak lagi mengandalkan belanja pemerintah yang masih jalan di tempat.
“Ada perusahaan minyak asing besar yang hendak investasi US$ 12 miliar tetapi sulitnya setengah mati. Ada perusahaan asing yang hendak menjual gas ke PT PLN (Persero) sudah lima bulan, namun dicueki oleh Dirut PLN,” katanya.
Faisal juga mengingatkan agar pemerintah tidak membuat kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ia mencontohkan dalam hal impor daging sapi.
“Jangan sampai kuota impor yang dibuka hanya menguntungkan para pengusaha penggemukan sapi,” kata Faisal. (gen)