“Saya sih tidak merasa ada masalah dengan Pelindo II,” kata Edi kepada CNN Indonesia, Selasa (25/8).
Sebelumnya, Rizal menjadikan pembangunan jalur rel kereta api barang ke pelabuhan sebagai salah satu solusi mengatasi permasalahan lamanya waktu bongkar muat barang (dwelling time) di pelabuhan itu. Keberadaan ular besi sebagai angkutan barang dianggapnya bisa mengurai kemacetan dan beban jalan di area pelabuhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edi memaparkan pihaknya terus berkoordinasi dengan Pelindo II terkait rencana pembangunan jalur kereta api penghubung Stasiun Kereta Logistik Pasoso ke Pelabuhan Tanjung Priok (Terminal JICT/ Koja) sepanjang 1 kilometer. Proyek itu sendiri sudah berlangsung sejak lama namun terkendala oleh masalah lahan.
Disebutkan Edi, saat ini proses pembebasan lahan sudah masuk tahap akhir dalam hal ini perhitungan harga sudah ada kemudian sosialisasi juga sudah dilakukan ke masyarakat .Sedangkan untuk lahan yang ada di area pelabuhan merupakan lahan milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR).
“Tanah yang ada di dalam (pelabuhan itu) bukan milik Pelindo tapi Kementeran PUPR. Saya dengar Menteri PUPR (Basuki Hadimuljono) sudah disurati resmi oleh Menhub supaya lahannya bisa digunakan,” kata Edi.
Edi berharap proyek ini bisa segera dilaksanakan secepatnya. Menurutnya, dengan adanya jalur ini bisa mengurangi beban jalan akibat truk-truk kontainer. Terkait soal kebutuhan investasi, Edi memastikan dana berasal dari kas perseroannya meskipun Edi mengaku lupa angka pastinya, Adapun jangka waktu pembangunan jalur rel diperkirakan hanya membutuhkan waktu enam bulan.
“Yang pasti kita upayakan pembangunan jalur rel ini secepatnya,” tandasnya.