"Dari market volatility dan tingkat bunganya sudah lebih stabil," ujar Bambang di Istana Kepresidenan, Rabu (26/8).
Sayangnya, Menkeu tidak bisa mengungkapkan berapa besar penurunan yield obligasi dan indikator stabilisasi pasar yang disebutkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau belum kondisi berat ya tidak usah pakai BSF," katanya.
Semenetara itu, Direktur Jenderal Pembiayaan Pengelolaan Risiko, Robert Pakpahan menyebut pemerintah telah menyediakan dana sebesar Rp 3 triliun untuk buyback obligasi negara dari investor.
Dari pagu tersebut, pemerintah telah menggunakan Rp 500 miliar untuk membeli kembali surat berharga negara (SBN) untuk seri seri FR0048 dan FR0036.
Menurut Robert, dari total utang pemerintah sebesar Rp 2.850 triliun, 54 persen atau sekitar Rp 1.539 triliun merupakan utang rupiah. Sisanya terbagi ke dalam beberapa denominasi, yakni dolar AS sebesar 28 persen atau sekitar Rp 722 triliun, Yen sebesar 9 persen atau sekitar 256 triliun, dan Euro 3 persen 85,5 triliun.
"Berarti yang (utang dolar AS) 28 persen itu ada (risiko), bisa naik lah," tuturnya di Jakarta, Senin (24/8).