“Penjualan total industri tahun lalu untuk alat berat itu sekitar 14 ribuan, prediksi kami untuk overall tahun ini cuma sekitar 8 ribuan. Sampai dengan Juni 2015 itu baru sekitar 3 ribuan secara keseluruhan,” kata Chief Marketing Officer Trakindo Ivan Tulong di Jakarta, Rabu (26/8).
Ivan menyebut penurunan penjualan alat berat disebabkan oleh lesunya perekonomian, lemahnya nilai tukar, dan masih belum pulihnya harga komoditas yang berdampak pada kinerja sektor pertambangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Construction itu tidak seperti pertambangan atau mungkin perkebunan yang biasanya membeli dalam jumlah yang lebih besar,” kata Ivan.
Director and Chief Operating Officer Trakindo Ali R. Alhabsyi pads Maret 2015 lulu sempat menyebut angka 2.500 unit sebagai target penjualan alat berat yang harus dicapai perusahaannya tahun ini. Angka itu naik 300 unit dibandingkan realisasi penjualan alat berat 2014 sebanyak 2.200 unit.
Proyek Pemerintah
Ivan menambahkan, rencana pemerintah mengerjakan sejumlah proyek infrastruktur sampai saat ini belum begitu terasa. Oleh karenanya, ia berharap permintaan terhadap alat berat akan terdongkrak ketika sejumlah proyek dieksekusi.
“Yang ujungnya tentunya produktivitas bisa lebih baik, lebih meningkat dan harganya bisa lebih masuk dan sesuai dengan anggaran yang ada,” kata Ivan.
Terkait dengan pelemahan nilai tukar, Ivan mengaku perusahaannya tidak bisa serta merta menaikkan harga jual ataupun sewa produk Caterpillar untuk menyesuaikan dengan nilai tukar yang ada. Pasalnya, daya beli pelaku usaha juga tengah menurun.
“Pelemahan nilai tukar rupiah dengan jumlah penjualan alat berat untuk industri pasti akan ada pengaruhnya tapi harapannya keadaan ini bisa lebih cepat diatasi sehingga industri bisa kembali normal,” tandas Ivan. (gen)