"Saat itu (1998) terjadi krisis politik yang menyebabkan terjadinya perubahan rezim pemerintahan," ujar Tony saat dihubungi, Rabu (26/8).
Ia melanjutkan, ketika itu terjadi kegaduhan politik dimana massa mendesak Soeharto yang saat itu menjadi Presiden mundur dari jabatan yang telah didudukinya selama 32 tahun. Soeharto dinilai gagal mengelola utang negara dan menjaga stabilitas perekonomian di akhir masa kepimpinannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk menahan agar masyarakat tetap memegang rupiah, suku bunga deposito dinaikkan hingga 60-70 persen, akibatnya bank-bank menderita ‘bleeding’ negative spread, rugi besar, modalnya terkuras bahkan ada yang modalnya jadi negatif," ujar Tony.
Tony memperkirakan kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Ia menduga bursa Amerika akan mengalami jenuh akibat derasnya aliran modal yang masuk secara bersamaan ke pasar keuangan negara Paman Sam itu.
"Pertama, saya menduga rally apresiasi dolar bisa jenuh. Indikasinya, indeks Dow Jones di New York anjlok ke 15.666 pada penutupan bursa Selasa kemarin. Ini saya interpretasikan bahwa AS sendiri lelah menerima inflows, sehingga pada titik tertentu mengalami koreksi berupa profit taking," ujarnya. (gen)