Direktur Utama Pertamina Lubricants Gigih Wahyu Hari Irianto mengatakan bahwa upaya perusahaan untuk menjaga dominasi pasar di industri oli semakin berat pasca dihapusnya peraturan pemerintah yang mengizinkan Pertamina memonopoli industri tersebut pada 2001 silam. Demi memperkuat posisi tersebut, perusahaan akan melakukan berbagai upaya agar pangsa pasarnya tak goyah.
"Salah satu cara menjaga pangsa pasar yaitu dengan bergabung ke global supply chain dan juga menggandeng technical partner yaitu Lambhorgini yang nanti logonya bisa ditaruh di kemasan," jelasnya di Jakarta, Jumat (28/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kerjasama ini membuktikan kualitas pelumas Pertamina. Semoga berpengaruh juga ke kinerja marketing nantinya baik dalam negeri dan luar negeri, dan pengaruh juga ke market share. Bagi kami yang penting adalah bagaimana bisa mendominasi pasar oli nasional," tambah Gigih.
Namun, hak monopoli tersebut kemudian dicabut melalui Keppres 21 tahun 2001 tentang Pelayanan Penyediaan Pelumas, yang memperbolehkan adanya pemain baru di pasar pelumas. Akibat adanya hal itu, Gigih mengatakan bahwa pangsa pasar oli Pertamina turun kira-kira sebanyak 40 persen selama 18 tahun terakhir.
Saat ini, Pertamina Lubricants menguasai 56,87 persen pasar oli nasional, disusul oleh Shell dengan pangsa pasar di kisaran angka 12 persen. Dengan kata lain, Pertamina Lubricants telah menjual 322,25 ribu kilo liter dari total penjualan oli secara nasional hingga Juli 2015 yang mencapai 566,65 ribu kilo liter.
“Angka pangsa pasar tersebut merupakan angka yang luar biasa karena best practice di negara lain kebanyakan market leader 30 persen. Untuk tahun ini akan kami jaga di atas 50 persen dan kami akan bertahan di situ," jelasnya. (gen)