Alih-alih sekadar berasal dari tanaman induk biasa, biji jagung ‘super’ ini dikembangkan di laboratorium milik Monsanto Indonesia, perusahaan produsen benih tanaman pertanian itu.
Mauricio Amore, CEO Monsanto Indonesia, mengatakan bibit jagung ‘super’ itu adalah hasil ‘perkawinan’ karakteristik unggulan dari beberapa macam jagung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di level DNA, ilmuwan Monsanto menggabungkan ciri-ciri genetika unggulan dari jagung dari berbagai lokasi di dunia. Contohnya, kemampuan satu jenis jagung menangkis penyakit digabungkan dengan keunggulan jagung lain seperti buah yang bagus atau daun yang kuat.
Bibit jagung unggul ini dinamakan jagung hibrida. Ia mampu meningkatkan produksi dari sekitar 1,5-2 metrik ton per hektare menjadi 6-7 metrik ton per hektare.
Tapi untuk memproduksi bibit unggul itu membutuhkan proses setidaknya sampai tujuh tahun. Dari puluhan ribu bibit dianalisis untuk kemudian disaring menjadi hanya beberapa bibit paling unggul.
Dari total lahan seluas 4 ribu meter persegi, sebagian ditanami jagung, di samping duku, dan tanaman keras lain. Jidin memanen dan menjual 2,4 ton jagung yang sudah dikeringkan. Total pendapatan dari jagung yang umurnya 4 bulan itu dia meraup Rp 5 juta.
“Dulu paling setengahnya,” kata Jidin, di lahannya yang miring mengikuti kontur perbukitan. Melalui program Sustainable Agriculture Landscape Partnership (SALP), Jidin dan para petani di daerah itu mendapat bantuan bibit jagung yang unggul.
SALP adalah proyek ‘keroyokan’ lembaga swadaya masyarakat Conservation International (CI) dan Monsanto Indonesia (gen)