"Bisa saja dilaksanakan asal konteksnya investasi dan tidak menggunakan APBN,"kata Aria, ketika dihubungi CNN Indonesia pada Minggu (30/8).
Namun, Aria menekankan bahwa pembangunan kereta cepat belum terlalu mendesak untuk dilakukan pada saat ini. Menurutnya, lebih baik pemerintah fokus kepada pembangunan infrastruktur dasar lainnya yang lebih memperkuat aspek produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan terpisah, Ketua Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas menilai pembangunan kereta super cepat Jakarta – Bandung tidak diperlukan masyarakat, baik sekarang maupun yang akan datang karena sarat akan kepentingan Jepang maupun China.
Menurutnya, meskipun kereta cepat akan membuat perjalanan Jakarta – Bandung dapat ditempuh dalam 37 menit, tapi dengan tarif yang tinggi, belum tentu akan menjadi pilihan warga.
"Bila kereta cepat tersebut dibangun oleh swasta, tentu tarifnya akan sama dengan tiket pesawat, sehingga orang akan tetap memilih naik pesawat terbang, akhirnya infrastruktur itu akan terbengkelai dan menjadi beban negara," tuturnya.
Darmaningtyas menambahkan, hal yang tidak pernah disadari oleh para penggagas proyek tersebut adalah bagaimana mengatasi kemacetan di dalam kota yang selama ini menghambat perjalanan.
Selama ini, katanya, perjalanan rute Bandung - Jakarta dengan mobil atau kereta api jauh lebih cepat dari pada perjalanan di dalam kota karena macet.
"Oleh karena itu lebih baik mengalokasikan dana yang besar untuk pembangunan angkutan umum massal di Jakarta atau memeratakan pembangunan infrastruktur agar tidak terkonsentrasi di Jakarta saja, sehingga penduduk pun menyebar ke daerah-daerah di luar Jawa akhirnya kemacetan di Jakarta terurai dengan sendirinya," tuturnya.
Sebelumnya, pemerintah China meminta pesaing tunggalnya, Jepang, menghormati proses evaluasi proposal yang tengah dilakukan pemerintah Indonesia.
Sebagai informasi, pada Rabu (26/8) Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengirim utusannya, Penasihat Khusus Perdana Menteri Jepang Hiroto Izumi, untuk menemui Presiden Joko Widodo, terkait usulan tambahan dalam proposal proyek kereta cepat.
Tambahan tersebut adalah waktu pembangunan yang lebih cepat dari tawaran sebelumnya, yakni lima tahun, serta transfer teknologi.
Saat bertemu Presiden China Xi Jin Ping di Jakarta Convention Center pada acara peringatan KTT Non Blok ke-60 (22/4), Presiden Jokowi memperjelas komitmen China merealisasikan pembangunan kereta Super Cepat Jakarta - Bandung.
Pertemuan itu kemudian ditindak-lanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sejumlah perusahaan BUMN dengan BUMN China mengenai realisasi pelaksanaan pembangunannya. Dengan demikian, kesepakatan tersebut bukan G to G (Government to Government), melainkan B to B (Business to Business).