"Yang harus kita bangun bahwa Rupiah tidak akan mendadak merosot banyak, di antaranya dengan intervensi. Tapi intervensi juga harus hati-hati jangan sampai seperti kayak malaysia waktu itu," ujar Anton usai diskusi dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Senin (31/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor pembeda utama saat ini, lanjut Anton, kondisi politik di Malaysia yang tengah memanas. Sedangkan di Indonesia, situasi politik dinilainya masih terkendali.
Dia mencontohkan Timur Tengah sebagai pasar potensial obligasi syariah atau sukuk. Lalu negara-negara Asia Timur seperti China dan Korea Selatan juga lokasi yang potensial untuk menawarkan obligasi konvensional.
"Itu yang akan menyebabkan capital inflow. Rasanya itu akan cukup membantu kita," tuturnya.
Langkah ini, jelas Tony, merupakan strategi jangka pendek yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan arus masuk modal ke dalam negeri. Peluang itu cukup besar, kata Tony, mengingat pasar AS mulai mendekati titik jenuh sehingga ada potensi pembalikan dolar ke luar.
"Indeks harga saham New York turun sekarang tinggal 16.400, pernah 18.300. Jadi turun 2000. Artinya mereka pun jenuh juga memegang dolar dan ditaruh di Amerika. Itu sinyal yang harus kita tangkap," jelasnya.
(ags)