Karenanya, Prasetyantoko menyarankan agar paket kebijakan yang disusun pemerintah tidak hanya sebatas penyederhanaan regulasi dan perizinan, tetapi juga menyediakan beragam insentif guna menggairahkan iklim investasi. Apabila keduanya sukses dikombinasikan pemerintah, Prasetyantoko optimistis investasi akan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi di masa depan.
"Memang dari segala isu, yang harus di-address paling utama adalah investasi karena hanya unsur itulah yang bisa men-drive pertumbuhan ekonomi yang kian melambat. Maka dari itu, sangat penting bagi pemerintah sekarang untuk melakukan debottlenecking birokrasi dan juga perhatikan insentif-insentif lainnya," ujar Prasetyantoko di Gedung Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kamis (3/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tak bisa andalkan konsumsi terus. Selain itu kita juga tak bisa menyuruh pemerintah untuk menyerap anggaran karena government expenditure hanya berkontribusi 9 persen terhadap PDB. Sudah saatnya meningkatkan porsi investasi di dalam pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini semakin melemah dari angka 4,71 persen di kuartal I ke 4,67 persen di kuartal II. Dari angka tersebut, konsumsi swasta tetap memegang porsi terbesar yaitu sebesar 56 persen di kuartal I dan 56,07 persen di kuartal II.
Di sisi lain, porsi investasi terhadap PDB menurun dari angka 32,5 persen di kuartal I 2015 menjadi 31,94 persen di kuartal berikutnya.
(ags/ags)