Pelaksana tugas (Plt) Kepala Grup Pengelolaan Relasi BI Arbonas Hutabarat memaparkan berbagai indikator makroekonomi terkini. Pertama, meskipun melambat, pada kuartal dua tahun ini Indonesia 4,67 persen atau lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia yang ada di kisaran 2-3 persen.
"Saya berani pastikan, dalam 12 tahun terakhir (pertumbuhan ekonomi) kita selalu di atas 4 persen. Negara lain gunjang ganjing, kita selalu tumbuh di atas 4 persen. Bahkan, di tahun-tahun tertentu kita pernah tumbuh 6 dan 7 persen," tutur Arbonas dalam acara Pelatihan Jurnalis BI di Bandung, Sabtu (5/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Artinya kita masih memiliki ketahanan dari sisi cadangan devisa. Sebenarnya, standar IMF (International Monetary Fund) itu hanya membutuhkan 3 bulan impor untuk mengatakan suatu negara itu masih aman,” kata Arbonas
Selain itu, apabila dibandingkan dengan kondisi krisis perekonomian tahun 1998, cadev Indonesia tahun ini jauh lebih tinggi. Pada tahun 1998, cadev Indonesia hanya sebesar US$ 23,76 miliar.
Di sektor perbankan, Arbonas meyakinkan kondisi perbankan Tanah Air masih sehat. Per Juni 2015, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan nasional tercatat 20,1 persen jauh lebih baik dibandingkan kondisi saat krisis 1997/1998 yang tercatat minus 15,70 persen.Rasio Kecukupan modal Juni 2015 juga lebih tinggi dari standar Bank for International Settlement (BIS) yang sebesar 8 persen.
“BIS memberikan standar modal (CAR) cukup 8 persen, kita 20 persen artinya kemampuan modal bank menyangga atau bank tahan terhadap kerugian besar,” kata Arbonas.
Lebih lanjut, per Juni 2015, loan to deposit ratio (LDR) perbankan Indonesia tercatat sebesar 88,6 persen. Dengan kata lain, bank masih memiliki kelonggaran dalam menyalurkan kredit.
“Zaman tahun 1997/1998, LDR kita sampai 120 persen, artinya bank cekak. Kredit yang diberikannnya lebih besar dari uang yang dimilikinya," kata Arbonas.
(eno)