Wakil Ketua Umum Kadin bidang Perdagangan dan Kerjasama Ekonomi Internasional, Chris Kanter mengatakan bahwa pihaknya ingin Kolombia berinvestasi di sektor basis produksi barang-barang selain kebutuhan dasar bagi kelas pendapatan menengah (middle income). Pasalnya, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia lebih besar apabila dibandingkan keseluruhan jumlah penduduk Kolombia.
Menurut Chris, saat ini jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia sebanyak 57 juta jiwa atau lebih besar 8 juta orang dibanding seluruh penduduk Kolombia yang sebesar 49 juta jiwa. Kondisi itu, menurutnya, merupakan potensi pasar yang baik bagi investor-investor Kolombia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, ujarnya, nanti Indonesia akan menjadi basis pasar terbesar di MEA dengan jumlah populasi sebanyak 260 juta orang, atau 43 persen dari total populasi Asia Tenggara sebesar 600 juta orang. Namun, sayangnya Chris tak mencontohkan jenis barang bagi kelas menengah yang bisa digarap oleh investor Kolombia.
Kebijakan lain yang diperlukan utamanya adalah perjanjian kerjasama perdagangan dengan negara lainnya dalam bentuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan beberapa kawasan. Jika hal itu tidak dipenuhi, maka impian Indonesia untuk menjadi negara berbasis ekspor hanya tinggal impian semata.
"Kalau kita tidak buat perjanjian dagang, maka beban semakin berat. Padahal, CEPA itu merupakan insentif investasi yang paling luar biasa. Untungnya Presiden Jokowi berjanji mau segera percepat CEPA dengan Uni Eropa, Korea Selatan, Australia, dan juga Amerika Selatan. Semoga saja Kolombia benar-benar mau menggarap pasar middle income di Indonesia," ujar Chris.
Jika dilihat secara lebih rinci, sebanyak 28 persen dari 450 ekspansi tersebut bergerak di bidang ritel fesyen, 11 persen bergerak di bidang pengolahan makanan, dan 8 persen di jasa keuangan. Maka dari itu, menurutnya, tak menutup kemungkinan jika keinginan Indonesia agar perusahaan Kolombia mau menggarap suplai pasar kelas menengah nantinya bisa terpenuhi.
"Sejauh ini, investasi Kolombia ke luar negeri mencapai US$ 43,56 miliar dari tahun 2002 hingga 2014 dengan tujuan Peru, Panama, Mexico, dan juga Amerika Serikat. Kini kami juga mencoba menggarap pasar Asia Tenggara karena potensi pasarnya yang besar," jelasnya.
Sebagai informasi, data World Investment Report menyebutkan bahwa Indonesia mengalami kenaikan arus masuk penanaman modal asing (PMA) sebesar 20 persen pada tahun 2014 ke angka US$ 22,6 dari US$ 18,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan investasi asing di Indonesia ini merupakan yang tertinggi ke-dua, sedangkan jumlah investasi asing di Indonesia merupakan yang terbesar ke-empat di Asia bagian timur.
Jika difokuskan ke kawasan Asia Tenggara saja, pertumbuhan PMA Indonesia sebesar 20 persen ini merupakan yang tertinggi diantara negara yang lainnya. Pertumbuhan PMA di Singapura sendiri mencapai 4,2 persen meskipun jumlah PMA-nya sebesar US$ 67,5 miliar, atau tiga kali lipat lebih besar dari Indonesia. (gen)