Sementara jika dibandingkan secara tahunan dengan jumlah penduduk miskin sampai Maret 2014 lalu, terjadi kenaikan sebanyak 310 ribu jiwa.
Kepala BPS Suryamin mengatakan meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk miskin disebabkan karena angka pembanding kemiskinan selama 2014 bertambah sangat cepat akibat meningkatnya jumlah penduduk secara nasional. Menurut Suryamin, jumlah populasi Indonesia bertambah 3 juta sampai 4 juta jiwa per tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPS juga mencatat selama periode September 2014 hingga Maret 2015 jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 290 ribu orang dari 10,36 juta orang pada September 2014 menjadi 10,65 juta orang pada Maret 2015.
"Orang dikatakan miskin apabila rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan," jelas Suryamin.
Faktor BBM
Suryamin mengatakan jika dilihat tren dari tahun 2009 perkembangan angka kemiskinan cenderung stagnan dan selalu berada di atas level 10 persen.
"Kalau angka kemiskinan sudah sampai pada level 10 sampai 11 persen kalau untuk menurunkannya memang agak susah, di semua negara seperti itu. Sehingga perlu bantuan yang khusus," katanya.
"Akhir 2014 pencabutan subsidi BBM menyebabkan kenaikan harga di awal 2015. Selama periode September 201-Maret 2015 terjadi inflasi yang cukup tinggi sebesar 4,03 persen," katanya.
Selain itu merangkaknya sejumlah harga bahan pangan juga turut menjadi faktor meningkatnya angka kemiskinan. BPS mencatat secara nasional rata-rata harga beras mengalami peningkatan sebesar 14,48 persen.
Selama periode September 2014- Maret 2015 selain beras eceran, beberapa komoditas bahan pokok juga mengalami kenaikan seperti cabe rawit serta gula pasir yang masing-masing naik sebesar 2,28 persen dan 1,92 persen. (gen)