“Pasti ada kemungkinan negara lain memasok sapi ke Indonesia. Cuma lagi diatur infrastrukturnya. Kan ketentuannya harus bebas penyakit mulut dan kuku. Sementara yang bebas penyakit itu cuma Australia dan Selandia Baru,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Karyanto Suprih di kantornya, Jakarta, Jumat (25/9).
Kendati demikian, menurut Karyanto, dibukanya keran impor sapi dari negara lain paling cepat baru dilakukan tahun depan. Selain menyiapkan infrastruktur, pemerintah juga harus melakukan karantina dan proses terkait lainnya guna memastikan daging impor yang beredar aman dikonsumsi masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan asal negara, Karyanto mengatakan pemerintah tidak membatasi selama sapi asal negara itu bebas dari penyakit mulut dan kuku.
“Karena single supplier sapi-nya adalah Australia dan tidak ada negara lain, akibatnya mereka bisa mengontrol kita,” kata Safuan Kasno Soewondo, Vice President Country Head of Beef – Indonesia Santosa Agrindo saat ditemui CNN Indonesia, Selasa (22/9) lalu.
Brazil dan Uruguay
Safuan mengungkapkan harga bobot hidup sapi Australia pada kuartal keempat tahun ini diperkirakan mencapai US$ 2,95 per kilogram (kg) atau Rp 46 ribu dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.500 per dolar.
“Jadi tidak usah diatur memang harganya seperti itu,” tutur Safuan.
“Impor dari India tidak bisa. Karena India buruk sekali cara pengelolaan penyakitnya. Kami tidak memilih India, namun Brazil dan Uruguay. Sapinya bagus dan mereka cuma short term area saja yang kena (penyakit) itu,” ujarnya.
Sejauh ini, baru Pemerintah Kolombia yang telah mengungkapkan ketertarikannya untuk menjadi pengekspor sapi ke tanah air.
“Sejak beberapa tahun lalu mereka meminta untuk dibukakan pintu impor sapi. Tapi kalau dibuka pintu impornya, siapa tahu lebih baik karena harganya bisa lebih murah dibanding sapi asal Australia. Kami belum bisa jawab apa-apa ke mereka dalam hal ini," jelas Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Amerika Latin Jacobus Dwihartanto, di Jakarta, Senin (14/9) silam.
Sebagai informasi, Kemendag telah mengeluarkan izin impor sapi sebesar 50 ribu ton pada kuartal III 2015. Angka ini merosot tajam dari realisasi impor sapi pada kuartal I yang sebesar 97,61 ribu ekor dari target impor 100.000 ekor dan kuartal II yang terealisasi 201,64 ribu ekor dari target impor 267,62 ribu ekor. (gen)