Padahal sejak awal tahun hingga kuartal III 2015, BTPN berhasil membukukan kredit Rp 56,9 triliun atau tumbuh 11 persen dari periode yang sama pada 2014 sebesar Rp 51,1 triliun. Namun, beban operasional yang meningkat membuat kinerja BTPN terhambat.
Direktur Utama BTPN Jerry Ng mengatakan pertumbuhan kredit kuartal III dimotori oleh peningkatan kredit ke segmen masyarakat prasejahtera produktif serta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, hal tersebut memperlihatkan tingginya kebutuhan pendanaan di kelompok masyarakat bawah, serta aktivitas UMKM yang tetap menggeliat di tengah perekonomian yang menantang.
“Pertumbuhan kredit sebesar 11 persen dengan NPL terjaga di 0,8 persen menunjukkan kami masih ekspansif dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” katanya.
Sayangnya, beban operasional BTPN hingga 30 September 2015 meningkat menjadi Rp 4,32 triliun, dari Rp 3,84 triliun. Beban operasional tersebut paling banyak disumbang oleh beban tenaga kerja senilai Rp 2,08 triliun, naik dari Rp 1,8 triliun.
“Apabila memperhitungkan pendanaan dari obligasi dan pinjaman bilateral, rasio likuiditas BTPN berada di 87 persen,” kata Jerry.
Adapun aset BTPN mengalami peningkatan 12 persen secara tahunan, dari Rp 71,7 triliun pada kuartal III 2014 menjadi Rp 80,1 triliun pada 30 September 2015. Sementara itu rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,8 persen.
Analis Mandiri Sekuritas Vanessa Ariati Tanuwijaya mengatakan kendati melemah dari tahunan, namun berdasarkan penghitungan antar kuartal, laba bersih BTPN menunjukkan pertumbuhan 30 persen secara kuartalan menjadi Rp 506 miliar dari Rp 388 miliar pada kuartal II 2015.
“Hasil kinerja itu sejalan dengan prediksi 2015 kami tetapi di bawah prediksi konsensus,” jelasnya. (gen)