Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2105, pemerintah mematok asumsi nilai tukar selama tahun 2015 bergerak di kisaran Rp12.200 per US$, lebih tinggi dari asumsi APBN peninggalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang mematok asumsi kurs berada di kisaran Rp11.900 per US$.
Asumsi tersebut diajukan oleh Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro dalam Rancangan APBNP 2015, di hadapan Badan Angaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada akhir 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga Februari rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp12.680 per US$. Melihat kondisi yang sudah tidak sesuai asumsi lagi, pemerintah pun buru-buru melakukan revisi dalam target APBNP 2015.
“Pembahasan mengenai asumsi untuk pertumbuhan ekonomi kesepakatan di Panja A yang juga berasal dari Komisi XI itu adalah 5,7 persen, atau lebih rendah dibandingkan nota keuangan di RAPBNP yang 5,8 persen,” kata Menkeu Jumat (6/2) di Jakarta.
Sementara asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga disepakati melemah, yakni menjadi sebesar Rp12.500 per dolar AS.
Revisi ini bukanlah yang terakhir dilakukan. Sentimen global semakin menjadi tantangan eksternal yang dihadapi oleh perekonomian domestik selama tahun 2015. Perlambatan ekonomi China dan penurunan harga komoditas global terutama minyak diperkirakan akan kembali melambat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan setidaknya ada tiga faktor eksternal yang membuat rupiah terus mengalami pelemahan. Pertama, ketidakpastian rencana Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mengumumkan kenaikan suku bunga. Investor menunggu apakah The Fed jadi atau tidak menaikkan suku bunga.
Kemudian yang ketiga, adanya tren harga minyak mentah dunia yang terus melemah. Turunnya harga minyak dunia juga menjadi penyebab terpuruknya mata uang global yang berimbas pada rupiah. Ketiga faktor inilah yang menurut Darmin membuat rupiah bernasib jelek sepanjang tahun.
Hingga pada akhirnya pada 29 September lalu, nilai tukar rupiah anjlok ke level Rp14.800, nilai ini merupakan yang terburuk sejak krisis moneter menerpa 1998 lalu. Dan lagi-lagi, jauh dari asumsi pemerintah. "Kurs kita ini bukan nilai yang sebenarnya. Selama sekian bulan terakhir, rupiah kita itu sudah lebih banyak merupakan pengaruh dari spekulasi, dari persepsi, dan lainnya," ujar Darmin, Kamis (15/10).
Tiba-tiba keadaan berbalik pada awal Oktober. Nilai tukar rupiah menguat selama awal Oktober 2015. Bahkan penguatan rupiah menjadi yang terbesar dibandingkan mata uang negara-negara sekawasan. Sejak 1 Oktober lalu, rupiah tercatat sudah menguat hingga 3 persen. Bahkan dalam perdagangan hari Jumat (16/10), rupiah sempat mencapai level Rp13.500 per US$.
Penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini dinilai hanya berlangsung sementara, terutama disebabkan rilis data tenaga kerja AS dan indeks manufaktur (ISM Manufacturing Index) AS yang tidak sesuai ekspektasi pasar. Kendati demikian, Menko Darmin dan Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara sepakat mengatakan, nilai tukar rupiah saat ini tidak mencerminkan nilai fundamental yang sebenarnya.
DPR pun menuntut pemerintah memasang target asumsi makro yang lebih realistis dalam penyusunan RAPBN 2016 mendatang. Akhirnya dalam RAPBN 2016 pemerintah mematok nilai asumsi kurs nilai tukar di angka Rp 13.900 per dolar AS.
Asumsi tersebut sekaligus mengesampingkan kondisi nilai tukar yang mulai membaik sejak awal Oktober. Alasannya, pemerintah masih ragu bahwa penguatan nilai tukar ini bakal bersifat jangka panjang. Menkeu Bambang mengatakan bahwa belum pastinya kenaikan suku bunga Amerika Serikat, Fed Rate dari angka 0 sampai 0,25 persen menjadi alasan kenapa pemerintah belum mau mengubah asumsi tersebut.
Berikut ini grafik pergerakan rupiah:
Grafik pergerakan rupiah (Dok. Bank Indonesia) |
Grafik pergerakan rupiah (Dok. Bank Indonesia)