Wianda Pusponegoro, Vice President for Corporate Communication mengatakan, pembelian gas ini akan berlangsung selama 20 tahun sejak 2019, sesuai dengan kontrak yang telah diteken manejemen pada 2013 silam.
Menurutnya, Pertamina tak dapat memajukan rencana pengiriman kargo meski harga jual minyak mentah dan gas bumi saat ini sedang murah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke AS, Senin (26/10), nilai kontrak pembelian LNG dari Amerika Serikat ini ditaksir mencapai kisaran US$ 13 miliar. Wianda menyangkal bahwa nilai kontrak tersebut kemahalan seperti yang disangkakan sejumlah pihak.
"Saya tidak akan lari dulu ke masalah harga pembelian atau apapun. Namun yang juga menjadi problem di sini kenapa pemerintah tidak memprioritaskan BUMN lebih dulu untuk bisa mendapatkan gas bumi dalam negeri? Padahal gas itu merupakan komoditas yang sebenarnya bisa menggerakan industri dan perekonomian nasional," kata Yusri.
Kontrak pembelian gas bumi dari Cheniere sebanyak 740 ribu ton per tahun diteken pertama kali pada 4 Desember 2013. Pembelian LNG dari Amerika Serikat ini akan mengacu pada indeks harga bulanan Henry Hub, belum ditambah komponen tetap dan biaya pengiriman. Setelah dihitung ulang, kontrak pembelian gas tersebut direvisi pada 1 Juli 2014 menjadi 1,5 juta ton per tahun.
Selain dari Cheniere, Pertamina sebelumnya juga berniat membeli gas dari Mozambik pada 2020.
"Kalau di sini terlihat jelas bagaimana BUMN juga harus bersulit-sulit mencari gas, padahal Indonesia katanya kaya gas. Saya pikir pemerintah memang belum serius mengurus sektor hulu gas diantaran dengan tidak adanya program pembangunan infrastruktur di sektor tersebut," jelas Yusri. (ags)