Seperti diketahui, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memutuskan untuk menunda skema PMN bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam APBN 2016. Rencananya, PMN akan kembali dibahas dalam APBN Perubahan (APBNP) 2016.
Direktur Keuangan Wijaya Karya Adji Firmantoro mengklaim adanya penundaan PMN pada 2016 tidak akan mengganggu pekerjaan pembangunan beberapa proyek perseroan yang ditaksir membutuhkan investasi total hingga Rp 13 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adji menambahkan, rencananya obligasi tahap pertama akan direalisasikan pada awal 2016. Obligasi berkelanjutan tersebut, lanjutnya, akan berjangka waktu selama 5 tahun.
Ia menambahkan, bahwa perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 1,1 triliun hingga Rp 1,4 triliun pada 2016. Sebagian dana hasil emisi obligasi akan dipergunakan untuk mendanai capex pada tahun depan.
"Jika dana PMN cair, capex akan sebesar Rp 1,4 triliun. Namun kalau tertunda, capex tahun depan hanya Rp 1,1 triliun," pungkasnya.
Seperti diketahui, sebelumnya Wijaya Karya direncanakan mendapat PMN sebesar Rp 3 triliun. Padahal, manajemen sebetulnya mengusulkan perolehan PMN hingga Rp 4 triliun.
Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk sejumlah proyek infrastruktur, di antaranya yang terbesar untuk pembangunan kawasan industri Kuala Tanjung, pembangkit listrik tenaga uap di Banten dan Aceh serta pembangunan jalan tol Samarinda-Balikpapan. (gen)