IEA meyakini bahwa kenaikan harga minyak tidak akan terjadi dengan drastis dalam lima tahun ke depan. Selain itu perusahaan produsen minyak juga harus mengantisipasi pertumbuhan permintaan di bawah skenario selama kurun waktu tersebut.
Penurunan harga minyak dunia sampai di bawah level US$ 50 per barel tahun ini dinilai IEA telah memicu pemangkasan volume produksi perusahan minyak Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu kontributor produksi utama minyak dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harapan kami adalah untuk melihat harga secara bertahap naik sampai US$ 80 sekitar tahun 2020," ujar Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA dikutip dari Reuters, Rabu (11/11).
"Kami memperkirakan tahun ini investasi di industri minyak akan turun lebih dari 20 persen. Tapi, yang lebih penting lagi mungkin, penurunan ini akan terjadi sampai tahun depan. Dalam 25 tahun terakhir, kami belum pernah melihat dua tahun berturut-turut di mana investasi yang menurun dan ini mungkin memiliki implikasi untuk harga minyak di tahun-tahun mendatang," jelasnya.
Sejak akhir 2014 perusahaan minyak telah bergulat dengan krisis jangka panjang. IEA menyebut kejatuhan harga minyak dunia terus memaksa perusahaan-perusahaan minyak memangkas belanja, memangkas biaya produksi, bahkan sampai memecat ribuan karyawan dan menunda investasi sekitar US$ 200 miliar pada megaproyek migas di seluruh dunia. (gen)