Ketua ABAC Doris Ho mengatakan sudah saatnya para pemimpin negara maupun pemimpin dunia bisnis di regional Asia Pasifik menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi berbasis ekspor komoditas tak cukup kuat untuk menggerakan ekonomi kawasan. Karenanya, ia menilai perlu dilakukan transformasi struktural untuk mengganti mesin pertumbuhan ekonomi, dengan memberikan peran yang lebih besar kepada sektor UMKM.
"UKM dan UMKM juga diharapkan mampu meningkatkan konektivitas bisnisnya ke seluruh dunia sehingga mampu berperan dalam penguatan pasar keuangan dan mampu menahan guncangan ekonomi global," ujar Doris di World Trade Center Manila, Filipina, Senin (16/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, kata Doris, masih banyak regulasi dan peraturan di sejumlah negara yang tidak berpihak pada UMKM. Dia mencontohkan salah satunya adalah peraturan mengenai perdagangan berbasis elektronik atau e-commerce.
Berdasarkan dialog yang ABAC lakukan dengan para pelaku industri, para pelaku industri sering mengeluh kesulitan saat membayar tarif kepabeanan. Tak hanya itu, akibat kondisi permodalan yang terbatas, para pelaku industri kerap terkendala ketika mencari suntikan dana segar dari pasar keuangan.
"Tentu hal seperti ini harus menjadi perhatian khususnya pemerintah. Kami mendesak pemerintah untuk mengambil aksi dan menciptakan kondisi yang mendukung agar UKM/UMKM bisa melangkah ke dunia internasional," ujarnya.
Sebelumnya, APEC pada Pertemuan Pejabat Tinggi (CSOM) menyepakati pelaksanaan Aksi Boracay untuk Globalisasi UMKM (Boracay Action Agenda to Globalize MSMEs/BAA-MSME) pada tahun ini.
APEC dalam kerangka BAA mencoba melibatkan UMKM dalam rantai pasok global atau langsung sebagai eksporter hilir barang dan jasa. (ags/gen)