“Ini menjadi langkah yang bagus, meskipun terlambat. Saat ini yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kapasitas dan teknologi dari kilang minyak yang sudah ada, sambil berusaha untuk terus membangun kilang baru,” ujar Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kurtubi di Jakarta, Selasa (17/11).
Politisi Fraksi Partai Nasional Demokrat tersebut mengatakan Indonesia membutuhkan tiga kilang baru untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhan BBM dari produksi dalam negeri. Meskipun kilang-kilang baru tersebut nantinya akan banyak mengolah minyak mentah impor. Kurtubi menyebut Indonesia tidak lagi bisa berharap pada produksi minyak nasional yang terus mengalami penurunan setiap tahunnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kurtubi yang dibutuhkan dari pelaku usaha saat ini adalah konsistensi kebijakan dari pemerintah karena investasi pembangunan kilang cukup besar dan jangka panjang. Pemerintah harus memberi kepastian hukum lewat kebijakan yang konsisten dan diharapkan mampu membantu menyediakan tanah.
Komaidi Notonegoro, Pengamat Energi dari Reforminer Institute menambahkan terhambatnya pembangunan kilang di Indonesia akibat minimnya pemberian fasilitas fiskal seperti yang dibutuhkan para calon investor. Pemerintah menurut Komaidi enggan memberikan intensif fiskal, karena dinilai permohonan tersebut terlalu berlebihan.
“Kalau pemerintah berpikir belum urgent, sehingga diputuskan beli BBM impor tentu harus dibayar dengan harga yang lebih mahal,” ungkapnya.
RFCC Cilacap tersebut mampu menghasilkan 30 ribu barel premium per hari atau 10,5 juta barel per tahun. Jumlah tersebut menurut Wianda, setara dengan 10 persen impor nasional premium.
“Itulah penghematan devisa yang dapat dilakukan dengan berkurangnya impor premium. Karena itu, kami upayakan RFCC Cilacap dapat beroperasi dengan baik dan maksimal,” ujar Wianda.
Dengan pembangunan RFCC Cilacap, bisa meningkatkan kemandirian dan Ketahanan energi dengan meningkatkan produksi BBM dan non BBM. Dari RFCC Cilacap tersebut, Pertamina dapat memproduksi Gasoline RON 92 sebesar 37,5 ribu barel stream day (MBSD), mengurangi impor HOMC sebanak 600 ribu barel per bulan, meningkatkan ketahanan stok premium menjadi 91 MBSD, meningkatkan produksi elpiji dari 440 ton stream day (TSD) menjadi 950 TSD. Selain itu bisa menghasilkan produk baru Propylene 430 TPD serta meningkatkan margin kilang dan meningkatkan NCI.
Lebih dari itu, proyek senilai Rp 11 triliun tersebut dinilai bisa memberikan multiplier effect dengan membuka lapangan kerja sekitar 9 ribu orang saat proyek berlangsung dan 400 orang saat operasi komersial. (gen)