Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan ketidakpastian di pasar keuangan global masih cukup tinggi menyusul rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (Fed fund rate) dan keberagaman kebijakan moneter yang ditempuh oleh Bank Sentral Eropa, Jepang, dan Tiongkok. Untuk itu, lanjutnya, BI akan tetap berhati-hati dalam menempuh langkah perlonggaran kebijakan moneter.
Bank Sentral Eropa dan Jepang, kata Agus, melakukan divergensi kebijakan moneter berupa pelonggaran kuantatif (quantitative easing). Sementara Bank Sentral China, memiliki rencana untuk rasionalisasi mata uang renminbi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia meyakini inflasi tahun ini akan ada di batas bawah kisaran 4 plus minus 1 persen. Sementara defisit transaksi berjalan diperkirakan pada akhir tahun sekitar 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Melihat perkembangan stabilitas makroekonomi yang semakin membaik, bank sentral memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) primer dalam rupiah dari 8 persen menjadi 7,5 persen, yang berlaku efektif per 1 Desember 2015. Tujuannya untuk menambah kapasitas pembiayaan perbankan dalam rangka membiayai pembangunan ke depan.
“Bank Indonesia menilai stabilitas makroekonomi semakin baik sehingga memberi ruang pada pelonggaran kebijakan moneter," ujar Agus.
Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan pelonggaran kebijakan moneter ini diperkirakan akan menambah kapasitas pembiayaan perbankan sebesar Rp 18 triliun.
"Penurunan GWM primer akan menambah kapasitas lending (perbankan) sebesar Rp 18 triliun," ujar Perry. (ags)