“Harusnya, kalau terima limpahan dana, harusnya, bunga kreditnya bisa turun,” tutur Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara dalam acara Aberdeen Outlook Ekonomi & Pasar Modal 2016 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Kamis (19/11).
Dengan potensi likuiditas sebesar Rp 18,22 triliun, Mirza mengatakan seharusnya tak hanya meningkatkan penyaluran kredit perbankan. Menurutnya, bank bisa memanfaatkan dana segar itu untuk mengurangi ketergantungan terhdap dana deposito yang mahal melalui pemangkasan bunga deposito. Pada akhirnya, ia mengatakan akan membuka peluang turunnya bunga kredit pinjaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, Mirza belum berani meramalkan potensi pertumbuhan kredit perbankan pasca penurunan GWM primer. Sebelumnya, BI merevisi turun proyeksi pertumbuhan kredit perbankan untuk tahun ini, dari estimasi awal sekitar 13 persen hingga 15 persen menjadi sekitar 11 persen hingga 13 persen.
“Karena memang bukan ilmu matematika bahwa kalau GWM primer diturunkan setengah (persen), langsung pertumbuhan kreditnya seperti apa. Tapi ini adalah suatu sinyal yang harus disambut positif,” ujarnya.
Berdasarkan data BI per September 2015, suku bunga deposito rupiah bank umum ada di rentang 7,62 persen hingga 8,95 persen. Cecara umum mengalami penurunan dari posisi Januari 2015 yang berkisar 8,46 persen hingga 9,23 persen.
Sementara tingkat bunga pinjaman rupiah bank umum per September 2015 untuk pinjaman modal kerja sebesar 12,58 persen, pinjaman investasi 12,19 persen, dan pinjaman konsumsi sebesar 13,85 persen. (ags)