Setelah berada di posisi tertinggi selama tujuh bulan terhadap nilai tukar Euro di Asia, Kurs dolar AS tercatat melemah pada Kamis (19/11).
Ini disebabkan oleh selera risiko yang meningkat berkat adanya optimisme ekonom AS dan para dealer yang memperkirakan kenaikan suku bunga Federal Reserve akan bertahap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika Fed berhasil dalam meyakinkan investor bahwa langkah menaikkan suku bunganya akan sangat bertahap, tentunya akan kurang menguntungkan bagi dolar. Terutama terhadap mata uang berisiko yang akan mendapatkan keuntungan dari penarikan akomodasi di tempat lain," Todd Elmer, ahli strategi mata uang Citigroup Inc. yang berbasis di Singapura, mengatakan kepada Bloomberg News.
Interprestasi positif ini sendiri, kata Elmer akan mendorong pasar regional dengan ekuitas-ekuitas reli setelah lonjakan di Wall Street. Sementara mata uang negara-negara berkembang atau "emerging market" dinilai akan menguat karena para dealer menjadi lebih tertarik membeli aset-aset lebih berisiko dan memberikan imbal-hasil lebih tinggi.
Sedangkan di antara mata uang negera berkembang, dolar Australia juga diketahui naik 0,69 persen terhadap Greenback, sementara Won Korea Selatan menguat 0,90 persen dan Ringgit Malaysia bertambah 1,17 persen.
Ada pun nilai tukar dolar Selandia Baru sedikit menguat 0,91 persen, Rupiah yang turut menguat 0,44 persen serta Baht Thailand yang saat ini diperdagangkan di posisi 0,12 persen lebih tinggi dari sebelumnya. (dim/ags)